Kaum Nabi Luth dan Kota yang
Dijungkirbalikkan
“Kaum Luth pun telah mendustakan
ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka
angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth.
Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari
Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan
sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka
mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.”
(QS. Al Qamar, 54: 33-36) !
Luth hidup semasa dengan Ibrahim.
Luth diutus sebagai rasul atas salah satu kaum tetangga Ibrahim. Kaum ini,
sebagaimana di-utarakan oleh Al Quran, mempraktikkan perilaku menyimpang yang
belum dikenal dunia saat itu, yaitu sodomi. Ketika Luth menyeru mereka untuk
menghentikan penyimpangan tersebut dan menyampai-kan peringatan Allah, mereka
mengabaikannya, mengingkari kenabi-annya, dan meneruskan penyimpangan mereka.
Pada akhirnya kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang mengerikan.
Sebelum mencermati sisa-sisa dari
bencana ini, marilah kita lihat mengapa kaum Luth dihukum seperti ini. Al Quran
menceritakan bagai-mana Luth memperingatkan kaumnya dan apa jawaban mereka:
“Kaum Luth telah mendustakan
rasulnya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu
tidak bertakwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang
diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku
sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain
hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa ka-mu mendatangi jenis lelaki di
antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu,
bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth,
sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang
diusir”. Luth berkata ‘Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu ‘.”
(QS. Asy-Syu’araa’, 26: 160-168 ) !
Sebagai jawaban atas ajakan ke jalan
yang benar, kaum Luth justru mengancamnya. Kaumnya membenci Luth karena ia
menunjuki mereka jalan yang benar, dan bermaksud menyingkirkannya dan
orang-orang yang beriman bersamanya. Dalam ayat lain, kejadian ini dikisahkan se-bagai
berikut:
“Dan (Kami juga telah mengutus)
Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa
kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh
seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki
untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini
adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan:
“Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri .” (QS. Al A'raaf, 7:
80-82) !
Luth menyeru kaumnya kepada sebuah
kebenaran yang begitu nyata dan memperingatkan mereka dengan jelas, namun
kaumnya sama sekali tidak mengindahkan peringatan macam apa pun dan terus
menolak Luth dan tidak mengacuhkan azab yang telah ia sampaikan kepada mereka:
“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata
kepada kaumnya: “Sesungguh-nya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat
keji yang sebelumnya belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat
sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun, dan
mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya
tidak lain hanya menga-takan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu
termasuk orang-orang yang benar.” ( QS. Al ‘Ankabuut, 29: 28-29) !
Karena menerima jawaban sedemikian
dari kaumnya, Luth meminta pertolongan kepada Allah.
“Ia berkata: “Ya Tuhanku, tolonglah
aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (QS. Al
‘Ankabuut, 29: 30) !
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku
beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” ( QS.
Asy-Syu’araa’, 26:169) !
Atas doa Luth tersebut, Allah
mengirimkan dua malaikat dalam wu-jud manusia. Kedua malaikat ini mengunjungi
Ibrahim sebelum menda-tangi Luth. Di samping membawa kabar gembira kepada
Ibrahim bahwa istrinya akan melahirkan seorang jabang bayi, kedua utusan itu
menjelas-kan alasan pengiriman mereka: Kaum Luth yang angkara akan dihan-curkan:
“Ibrahim bertanya, “Apakah urusanmu
hai para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang
berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang
(keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membi-nasakan) orang-orang yang
melampaui batas.” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 31-34) !
“Kecuali Luth beserta
pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya,
kecuali istrinya. Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk
orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).” (QS. Al
Hijr, 15: 59-60) !
Setelah meninggalkan Ibrahim, para
malaikat yang dikirim sebagai utusan lalu mendatangi Luth. Karena belum pernah
bertemu utusan sebe-lumnya, Luth awalnya merasa khawatir, namun kemudian ia
merasa te-nang setelah berbicara dengan mereka.
“Dan tatkala datang utusan-utusan
Kami (para malaikat) itu kepa-da Luth, dia merasa susah dan merasa sempit
dadanya karena keda-tangan mereka, dan dia berkata, “Inilah hari yang amat sulit.”
(QS. Huud, 11: 77) !
“Ia berkata: “Sesungguhnya kamu
adalah orang-orang yang tidak di-kenal”. Para
utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepa-damu dengan membawa azab yang
selalu mereka dustakan. Dan ka-mi datang kepadamu membawa kebenaran dan
sesungguhnya kami betul-betul orang yang benar. Maka pergilah kamu di akhir
malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan
janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah
perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”. Dan Kami telah wahyukan
kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bah-wa mereka akan ditumpas habis di waktu
subuh.” (QS. Al Hijr, 15 : 62-66) !
Sementara itu, kaum Luth telah
mengetahui bahwa ia kedatangan tamu. Mereka tidak ragu-ragu untuk mendatangi
tamu-tamu tersebut de-ngan niat buruk sebagaimana terhadap yang lain-lain
sebelumnya. Mere-ka mengepung rumah Luth. Karena khawatir atas keselamatan
tamunya, Luth berbicara kepada kaumnya sebagai berikut:
“Luth berkata: “Sesungguhnya mereka
adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah
kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.” (QS. Al Hijr, 15 : 68-69)
!
Kaum Luth menjawab dengan marah:
“Mereka berkata: “Dan bukankah kami
telah melarangmu dari (me-lindungi) manusia.” (QS. Al Hijr, 15: 70) !
Merasa bahwa ia dan tamunya akan
mendapatkan perlakuan keji, Luth berkata:
“Seandainya aku mempunyai kekuatan
(untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat
(tentu akan aku lakukan).” (QS. Huud, 11: 80) !
“Tamu”-nya mengingatkannya bahwa
sesungguhnya mereka adalah utusan Allah dan berkata:
“Para utusan (malaikat) berkata:
”Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka
tidak akan da-pat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga
dan pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu
yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang
menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di
waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat ?“ (QS. Huud, 11 : 81) !
Ketika kelakuan jahat warga kota memuncak, Allah
menyelamatkan Luth dengan perantaraan malaikat. Pagi harinya, kaum Luth
dihancur-leburkan dengan bencana yang sebelumnya telah ia sampaikan.
“Dan sesungguhnya mereka telah
membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata
mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada
esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (QS. Al Qamar, 54: 37-38) !
Ayat yang menerangkan penghancuran
kaum ini sebagai berikut :
“Maka mereka dibinasakan oleh suara
keras yang mengguntur, keti-ka matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian
atas kota itu
terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi
orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang
masih tetap (dilalui manusia).” (QS. Al Hijr, 15: 73-76) !
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami
jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami
hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,
yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang
yang zalim.” (QS. Huud, 11: 82-83) !
“Kemudian Kami binasakan yang lain,
dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu belerang), maka amat kejamlah hujan
yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguh-nya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah
kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesung-guhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah
Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 172-175) !
Ketika kaum tersebut dihancurkan,
hanya Luth dan pengikutnya, yang tidak lebih dari “sebuah keluarga”, yang
diselamatkan. Istri Luth sendiri juga tidak percaya, dan ia juga dihancurkan.
“Dan (Kami juga yang telah
mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka:
“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah
dikerja-kan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelumnya?”. Sesungguhnya kamu
mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mere-ka), bukan kepada
wanita, malah kamu ini adalah kaum yang me-lampaui batas. Jawab kaumnya tidak
lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari
kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura
me-nyucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengi-kutnya
kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan
Kami turunkan kepada mereka hujan (batu belerang), maka perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang memperturutkan dirinya dengan dosa dan kejahatan
itu.” (QS. Al A'raaf, 7: 80-84) !
Demikianlah, Nabi Luth diselamatkan
bersama para pengikut dan keluarganya, kecuali istrinya. Sebagaimana disebutkan
dalam Perjanjian Lama, ia (Luth) berimigrasi bersama Ibrahim. Akan halnya kaum
yang sesat itu, mereka dihancurkan dan tempat tinggal mereka diratakan de-ngan
tanah.
"Tanda-Tanda yang
Nyata" di Danau Luth
Ayat ke-82 Surat Huud dengan jelas
menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Luth. “Maka tatkala datang azab
Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan
Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara
bertubi-tubi.”
Pernyataan “menjungkirbalikkan (kota )” bermakna kawasan
terse-but diluluhlantakkan oleh gempa bumi yang dahsyat. Sesuai dengan ini, Danau
Luth, tempat penghancuran terjadi, mengandung bukti “nyata” dari bencana
tersebut.
Kita kutip apa yang di-katakan oleh
ahli arkeologi Jerman bernama Werner
Keller, sebagai
berikut:
Bersama dengan dasar dari retakan
yang sangat lebar ini, yang persis me-lewati daerah ini, Lembah Siddim,
termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam sa-tu hari terjerumus ke ke-dalaman.
Kehancuran mereka terjadi melalui se-buah peristiwa gempa bu-mi dahsyat yang
mung-kin disertai dengan letus-an, petir, keluarnya gas alam serta lautan
api.13
Malahan, Danau Luth, atau yang lebih
dikenal dengan Laut Mati, ter-letak tepat di puncak suatu kawasan seismik
aktif, yaitu daerah gempa bumi:
Dasar dari Laut Mati berdekatan
dengan runtuhan yang berasal dari peristi-wa tektonik. Lembah ini terletak pada
sebuah tegangan yang merentang antara Danau Taberiya di Utara dan tengah-tengah
Danau Arabah di Selatan.14
Peristiwa tersebut dilukiskan dengan
“Kami menghujani mereka de-ngan batu belerang keras sebagaimana tanah liat yang
terbakar secara bertubi-tubi” pada bagian akhir ayat. Ini semua mungkin berarti
letusan gunung api yang terjadi di tepian Danau Luth, dan karenanya cadas dan
batu yang meletus berbentuk “terbakar“ (kejadian serupa diceritakan da-lam ayat
ke-173 Surat Asy-Syu’araa’ yang menyebutkan: “Kami menghu-jani mereka (dengan
belerang), maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi
peringatan itu.“)
Berkaitan dengan hal ini, Werner
Keller menulis :
Pergeseran patahan membangkitkan
tenaga vulkanik yang telah tertidur lama sepanjang patahan. Di lembah yang
tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat
kawah yang menjulang dari gunung api yang sudah mati; bentangan lava yang luas
dan lapisan basal yang dalam yang telah terdeposit pada permukaan batu kapur.15
Lava dan lapisan basal merupakan
bukti terbesar bahwa letusan gu-nung api dan gempa bumi pernah terjadi di sini.
Bencana yang dilukiskan dengan ungkapan “Kami menghujani mereka dengan batu
belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubi“ dalam
Al Quran besar kemungkinan menunjuk letusan vulkanis ini, dan Allah-lah Yang
Mahatahu. Ungkapan “Ketika firman Kami telah terbukti, Kami jungkir-balikkan
(kota)“, dalam ayat yang sama, mestilah menunjuk pada gempa bumi yang
meng-akibatkan letusan gunung api di atas permukaan bu-mi dengan akibat yang
dahsyat, serta retakan dan reruntuhan yang diaki-batkannya, dan hanya Allah
yang mengetahui kebenarannya.
“Tanda-tanda nyata” yang disampaikan
oleh Danau Luth tentu sangat menarik. Umum
nya, ke-jadian yang diceritakan dalam Al Quran terjadi di Timur Tengah,
Jazirah Arab, dan Mesir. Tepat di tengah-tengah semua ka-wasan ini terletak
Danau Luth. Danau Luth, serta sebagian peristiwa yang terjadi di sekitarnya,
pa-tut mendapat perhatian secara geologis. Danau tersebut diperkirakan berada
400 meter di bawah permukaan Laut Tengah. Karena lokasi ter-dalam dari danau
tersebut adalah 400 meter, dasarnya berada di keda-laman 800 meter di bawah
Laut Tengah. Inilah titik yang terendah di seluruh permukaan bumi. Di daerah lain
yang lebih rendah dari permu-kaan laut, paling dalam adalah 100 meter. Sifat
lain dari Danau Luth adalah kandungan garamnya yang sangat tinggi, kepekatannya
hampir mencapai 30%. Oleh karena itu, tidak ada organisme hidup, semacam ikan
atau lumut, yang dapat hidup di dalam danau ini. Hal inilah yang menyebabkan
Danau Luth dalam literatur-literatur Barat lebih sering disebut sebagai “ Laut
Mati”.
Kejadian yang menimpa kaum Luth, yang
disebutkan dalam Al Quran berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 1.800 SM. Berdasarkan
pada penelitian arkeologis dan geologis, peneliti Jerman Werner Keller mencatat
bahwa kota Sodom dan Gomorah benar-benar berada di lembah Siddim yang merupakan
daerah terjauh dan terendah dari Danau Luth, dan bahwa pernah terdapat situs
yang besar dan dihuni di daerah itu.
Karakteristik paling menarik dari
struktur Danau Luth adalah bukti yang menunjukkan bagaimana peristiwa bencana
yang diceritakan dalam Al Quran terjadi:
Pada pantai timur Laut Mati,
semenanjung Al Lisan menjulur seperti lidah jauh ke dalam air. Al Lisan berarti
"lidah" dalam ba-hasa Arab. Dari daratan tidak tampak bahwa tanah
berguguran di bawah permukaan air pada su-dut yang sangat luar biasa,
me-misahkan laut menjadi dua ba-gian. Di sebelah kanan semenan-jung, lereng
menghunjam tajam ke kedalaman 1200 kaki. Di sebe-lah kiri semenanjung, secara
luar biasa kedalaman air tetap dang-kal. Penelitian yang dilakukan beberapa
tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kedalam-annya hanya berkisar antara 50 -
60 kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut Mati ini, mulai dari
semenanjung Al Lisan sampai ke ujung paling Selatan, dulunya merupakan Lembah
Siddim16.
Werner Keller menenggarai bahwa
bagian dangkal ini, yang ditemu-kan terbentuk belakangan, merupakan hasil dari
gempa bumi dahsyat yang telah disebutkan di atas. Di sinilah Sodom dan Gomorah
berada, yakni tempat kaum Luth pernah hidup.
Suatu ketika, daerah ini dapat
dilintasi dengan berjalan kaki. Namun sekarang, Lembah Siddim, tempat Sodom dan
Gomorah dahulunya ber-ada, ditutupi oleh permukaan datar bagian Laut Mati yang
rendah. Ke-runtuhan dasar danau akibat bencana alam mengerikan yang terjadi di
awal alaf kedua sebelum Masehi mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke
rongga yang baru terbentuk ini dan memenuhi lembah sungai dengan air asin.
Jejak-jejak Danau Luth dapat
terlihat.... Jika seseorang bersampan me-lintasi Danau Luth ke titik paling
utara dan matahari sedang bersinar pada arah yang tepat, maka ia akan melihat
sesuatu yang sangat me-nakjubkan. Pada jarak tertentu dari pantai dan jelas
terlihat di bawah permukaan air, tampaklah gambaran bentuk hutan yang diawetkan
oleh kandungan garam Laut Mati yang sangat tinggi. Batang dan akar di bawah air
yang berwarna hijau berkilauan tampak sangat kuno. Lembah Siddim, di mana pepohonan
ini dahulu kala bermekaran daunnya menutupi batang dan ranting merupakan salah
satu tempat terindah di daerah ini. Aspek mekanis dari bencana yang menimpa
kaum Luth diungkapkan oleh para peneliti geologi. Mereka mengungkapkan bahwa
gempa bumi yang menghancurkan kaum Luth terjadi sebagai akibat rekahan yang
sangat panjang di dalam kerak bumi (garis patahan) sepan-jang 190 km yang
membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at membuat air terjun sepanjang
180 meter keseluruhannya. Kedua hal ini dan fakta bahwa Danau Luth berada 400
meter di bawah permukaan laut adalah dua bukti penting yang menunjukkan bahwa
peristiwa geologis yang sangat hebat pernah terjadi di sini.
Struktur Sungai Sheri’at dan Danau
Luth yang menarik hanya merupakan sebagian kecil dari re-kahan atau patahan
yang melintas dari kawasan bumi tersebut. Kon-disi dan panjang rekahan ini baru
ditemukan akhir-akhir ini.
Rekahan tersebut berawal da-ri tepian
Gunung Taurus, meman-jang ke pantai selatan Danau Luth dan berlanjut melewati
Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, dan ber-akhir di
Afrika. Di sepanjangnya teramati kegiatan-kegiatan vulkanis yang kuat. Batuan
basal hitam dan lava terdapat di Gunung Galilea di Israel, daerah dataran
tinggi Yordan, Teluk Aqaba, dan daerah sekitarnya.
Seluruh reruntuhan dan bukti
geografis tersebut menunjukan bahwa bencana geologis dahsyat pernah terjadi di
Danau Luth. Werner Keller menulis:
Bersama dengan dasar dari retakan
yang sangat lebar ini, yang persis me-lewati daerah ini, Lembah Siddim,
termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman.
Kehancuran mereka terjadi melalui sebu-ah peristiwa gempa bumi dahsyat yang
mungkin disertai dengan letusan, petir, keluarnya gas alam serta lautan api.
Pergeseran patahan membang-kitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur lama
sepanjang patahan. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih
terdapat kawah yang menjulang dari gunung api yang sudah mati; bentangan lava
yang luas dan lapisan basal yang dalam yang telah terdeposit pada permukaan
batu kapur.17
National Geographic edisi Desember
1957 menyatakan sebagai berikut:
Gunung Sodom, tanah gersang dan
tandus muncul secara tajam di atas Laut Mati. Belum pernah seorang pun
menemukan kota Sodom dan Gomorrah yang dihancurkan, namum para akademisi
percaya bahwa mereka berada di lembah Siddim yang melintang dari tebing terjal
ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati menelan mereka setelah gempa bumi.18
Pompei Berakhir Serupa
Al Quran memberi tahu kita dalam ayat
berikut bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah.
“Dan mereka bersumpah dengan nama
Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka
seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari
salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi
peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mere-ka, kecuali
jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan
karena rencana (mereka) yang jahat. Ren-cana itu tidak akan menimpa selain
orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan
melainkan (berlaku-nya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang
yang ter-dahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui penyimpangan bagi
sunnah Allah.” (QS. Faathir, 35: 42-43) !
Ya, “tidak akan ditemukan
perubahan dalam sunnah Allah”. Siapa pun, yang menentang hukum-Nya dan
memberontak terhadap-Nya, akan menghadapi hukum suci yang sama. Pompei, sebuah
simbol keme-rosotan Kekaisaran Romawi, juga melakukan perilaku seksual
menyim-pang. Kesudahannya pun serupa dengan kaum Luth.
Kehancuran Pompei disebabkan oleh
letusan gunung Vesuvius.
Gunung Vesuvius adalah simbol bagi
Italia, terutama kota Naples. Karena berdiam diri selama dua ribu tahun
terakhir, Vesuvius dinamai “Gunung Peringatan”. Gunung ini dinamai demikian
bukannya tanpa sebab. Bencana yang menimpa Sodom dan Gomorrah sangat mirip
dengan bencana yang menghancurkan Pompei.
Di sebelah kanan Vesuvius terletak
kota Naples dan di sebelah timur terletak Pompei. Lava dan debu dari letusan
vulkanis dahsyat yang terjadi dua alaf yang lalu memerangkap warga kota
tersebut. Bencana tersebut terjadi begitu tiba-tiba, sehingga segala sesuatu di
kota itu terperangkap di tengah kehidupan sehari-hari dan hingga kini tetap
seperti apa adanya dua alaf yang lalu. Seolah waktu telah dibekukan.
Pemusnahan Pompei dari muka bumi
dengan bencana seperti ini bu-kan tanpa alasan. Catatan historis menunjukkan
bahwa kota tersebut ada-lah sarang foya-foya dan perilaku menyimpang. Kota ini
dikenal dengan meningkatnya pelacuran begitu tinggi sampai-sampai jumlah rumah
bordil tidak terhitung lagi. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya
di-gantungkan di depan pintu-pintu rumah bordil. Menurut tradisi yang ber-akar
dari kepercayaan Mithra ini, organ seksual dan persetubuhan tidak seharusnya
disembunyikan, namun diper-tontonkan secara terang-terangan.
Namun lava Vesuvius telah menyapu
bersih seluruh kota dari peta dengan seke-tika. Segi yang paling menarik dari
peris-tiwa ini adalah bahwa tidak ada seorang pun melarikan diri walau demikian
he-bohnya letusan Vesuvius. Sepertinya me-reka sama sekali tidak menyadari
bencana tersebut, seolah-olah mereka sedang ter-kena mantra. Sebuah keluarga
yang sedang menyantap makanan mereka membatu saat itu juga. Banyak pasangan
ditemukan membatu dalam keadaan se-dang berhubungan badan. Hal yang pa-ling
menarik adalah bahwa terdapat pa-sangan berjenis kelamin sama dan pasang-an
muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari beberapa jasad membatu yang digali dari Pompei
tidak rusak, ekspresi wajah-wajah tersebut pada umumnya menun-jukkan
kebingungan.
Di sinilah terdapat aspek yang paling
tak terpahami dari bencana itu. Bagaimana mungkin ribuan orang yang menunggu
untuk dijemput maut tanpa melihat dan mendengar apa pun?
Aspek ini menunjukkan bahwa
musnahnya Pompei mirip dengan peristiwa-peristiwa penghancuran yang disebutkan
dalam Al Quran, karena Al Quran secara jelas menyebutkan “pembinasaan yang
tiba-tiba“ ketika menceritakan berbagai peristiwa itu. Sebagai contoh, “warga
kota” yang disebutkan dalam Surat Yaasiin mati seketika secara bersamaan.
Keadaan ini diceritakan dalam Surat Yaasiin ayat 29 sebagai berikut:
“Tidak ada siksaan atas mereka
melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.”
Dalam ayat 31 Surat Al Qamar, sekali
lagi “pembinasaan seketika” ditekankan ketika penghancuran kaum Tsamud
dikisahkan:
“Sesungguhnya Kami menimpakan atas
mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti
rumput-rumput ke-ring (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”
Kematian warga kota Pompei terjadi
seketika sebagaimana peristiwa-peristiwa yang diceritakan pada ayat-ayat di
atas.
Meskpun demikian, tidak banyak hal
yang berubah di tempat Pompei pernah berdiri. Daerah Naples, tempat terjadinya
kerusakan, tidak meng-alami yang terjadi di daerah Pompei yang tidak bermoral.
Kepulauan Capri adalah basis bagi kaum homoseksual dan kaum nudis bertempat
tinggal. Kepulauan Capri ditampilkan sebagai “surga homoseksual” da-lam iklan
pariwisata. Tidak hanya di kepulauan Capri dan di Italia saja, namun hampir di
seluruh dunia kemerosotan moral yang sama sedang terjadi, dan manusia tetap
berkeras untuk tidak mengambil pelajaran dari pengalaman mengerikan kaum-kaum
terdahulu.
Picture Text
Sebuah foto satelit dari daerah
tempat tinggal kaum Luth dahulu.
Danau Luth, atau disebut juga Laut
Mati.
Foto-foto Danau Luth yang diambil
dari satelit.
Sebuah ilustrasi yang menunjukkan
letusan gunung berapi dan keruntuhan yang mengikutinya, yang memusnahkan
seluruh kaum.
Pandangan jarak jauh dari Danau Luth
Pandangan atas dari pegunungan di
sekitar Danau Luth
Sisa-sisa dari kota yang terkubur ke
dalam danau, ditemukan di tepian danau. Peninggalan ini menunjukkan bahwa kaum
Luth telah memiliki standar hidup yang cukup tinggi.
Penghancuran kaum Luth telah
mengilhami banyak pelukis. Salah satunya seperti tampak di atas.
Gambar di atas menunjukkan kemewahan
dan kemakmuran kota Pompei sebelum terjadinya bencana.
Mayat-mayat membatu yang ditemukan
pada penggalian di Pompei.
Contoh lain dari mayat-mayat membatu
yang ditemukan
di antara reruntuhan Pompei.
Beberapa contoh lain dari mayat-mayat
membatu yang ditemukan di Pompei. Gambar di sebelah kiri adalah contoh yang
sangat tepat untuk menunjukkan betapa cepatnya bencana tersebut terjadi.
Bab 4
Kaum ’Ad dan Ubar,
“Atlantis di Padang Pasir”
“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah
dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan
angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka
kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka
tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat
seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al Haaqqah, 69: 6-8) !
Kaum lain yang dimusnahkan dan
diberitakan dalam berbagai surat dalam Al Quran adalah kaum 'Ad, yang
disebutkan sete-lah kaum Nuh. Nabi Hud yang diutus untuk kaum ‘Ad
meme-rintahkan mereka, sebagaimana yang telah dilakukan nabi-nabi lainnya,
untuk beriman kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dan mematuhi dirinya
sebagai nabi pada waktu itu. Namun mereka menang-gapinya dengan rasa
permusuhan. Ia didakwa sebagai seorang bodoh, pembohong, dan berusaha mengubah
apa yang telah dilakukan para leluhur mereka.
Dalam Surat Hud semua hal yang
terjadi antara Hud dengan kaum-nya diceritakan secara terperinci:
“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus)
saudara mereka Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak
ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.”
“Hai kaumku, aku tidak meminta upah
kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah
menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?”
Dan (dia berkata): ”Hai kaumku,
mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia
menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan
kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”
Kaum ‘Ad berkata: ”Hai Hud, kamu
tidak mendatangkan kepada ka-mi suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali
tidak akan mening-galkan sembahan-sembahan kami karena perbuatanmu, dan kami
tidak akan sekali-kali mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa
sebagian sembahan kami telah menimpakan pe-nyakit gila atas dirimu.”
Hud menjawab: “Sesungguhnya aku
bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu
jalan-kanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh
kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak
ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya
aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk
menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang
lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun.
Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. “
Dan tatkala datang azab Kami, Kami
selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari
Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.
Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari
tanda-tanda kekua-saan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan
mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menantang
(kebenaran).
Dan mereka selalu diikuti dengan
kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya
kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad
(yaitu) kaum Hud itu.” (QS. Huud, 11: 50-60) !
Surat lain yang menyebutkan tentang
kaum ‘Ad adalah surat Asy-Syu’araa’. Dalam surat ini ditekankan beberapa
karakteristik dari kaum ‘Ad. Menurut surat ini kaum ‘Ad adalah kaum yang
“mendirikan ba-ngunan di setiap tempat yang tinggi” dan orang-orangnya
“membangun gedung-gedung yang indah dengan harapan mereka akan hidup di
dalamnya (selamanya)”. Disamping itu, mereka berbuat kejahatan dan berlaku
bengis. Ketika Hud memperingatkan kaumnya, mereka mengo-mentari kata-katanya
sebagai “kebiasaan kuno”. Mereka sangat yakin bahwa tidak ada hal yang akan
terjadi terhadap mereka.
“Kaum ‘Ad telah mendustakan para rasul.
Ketika saudara mereka Hud berkata
kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya aku adalah seorang
rasul; kepercayaan (yang diutus) kepadamu.
Maka bertakwalah kepada Allah dan
taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan
itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap
tanah tinggi bangunan un-tuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng
dengan mak-sud supaya kamu kekal (di dunia)?
Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu
menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis.
Maka bertakwalah kepada Allah dan
taatlah kepadaku.
Dan bertakwalah kepada Allah yang
telah menganugerahkan kepa-damu apa yang kamu ketahui.
Dia telah menganugerahkan kepadamu
binatang-binatang ternak dan anak-anak,
dan kebun-kebun dan mata air,
sesungguhnya aku takut kamu akan
ditimpa azab hari yang besar.”
Mereka menjawab: ”Adalah sama saja
bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami)
ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak
akan diazab”.
Maka mereka mendustakan Hud, lalu
Kami binasakan mereka. Se-sungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah
Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 123-140) !
Kaum yang menunjukkan permusuhan
kepada Hud dan melawan Allah itu benar-benar dibinasakan. Badai pasir yang
mengerikan membi-nasakan kaum ‘Ad seakan-akan mereka “tidak pernah ada”.
Temuan Arkeologis di Kota Iram
Pada awal tahun 1990 muncul
keterangan pers dalam beberapa surat kabar terkemuka di dunia yang menyatakan
“Kota Legenda Arabia yang Hilang Telah Ditemukan”, “Kota Legenda Arabia Ditemukan”,
“Ubar, Atlantis di Padang Pasir.” Yang membuat temuan arkeologis ini lebih
menarik adalah kenyataan bahwa kota ini juga disebut dalam Al Quran. Banyak
orang, yang sejak dahulu beranggapan bahwa kaum ‘Ad sebagai-mana diceritakan
dalam Al Quran hanyalah sebuah legenda atau berang-gapan bahwa lokasi mereka
tidak akan pernah ditemukan, tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka atas
penemuan ini. Penemuan kota ini, yang hanya disebutkan dalam cerita lisan Suku
Badui, membangkit-kan minat dan rasa keingintahuan yang besar.
Adalah Nicholas Clapp, seorang
arkeolog amatir yang menemukan kota legendaris yang disebutkan dalam Al Quran
ini19. Sebagai seorang Arabophile dan pembuat film dokumenter berkualitas,
Clapp telah men-jumpai sebuah buku yang sangat menarik selama penelitiannya
tentang sejarah Arab. Buku ini berjudul Arabia Felix yang ditulis oleh seorang
pe-neliti Inggris bernama Bertram Thomas pada tahun 1932. Arabia Felix adalah
penamaan Romawi untuk bagian selatan semenanjung Arabia yang dewasa ini mencakup
Yaman dan sebagian besar Oman. Bangsa Yunani menyebut daerah ini “Eudaimon
Arabia”. Sarjana Arab abad per-tengahan menyebutnya sebagai “Al Yaman
As-Sa'idah”20.
Semua nama tersebut berarti “Arabia
yang Beruntung”, karena orang-orang yang hidup di daerah tersebut di masa lalu
dikenal sebagai orang-orang yang paling beruntung pada zamannya. Lalu, apakah
yang menjadi alasan bagi penamaan seperti itu?
Keberuntungan mereka sebagian
berkaitan dengan letak mereka yang strategis menjadi perantara dalam perdagangan
rempah-rempah antara India dengan tempat-tempat di utara semenanjung Arab. Di
sam-ping itu, orang-orang yang berdiam di daerah ini memproduksi dan
men-distribusikan "frankincense" sejenis getah wangi dari pepohonan
langka. Karena sangat disukai oleh masyarakat kuno, tanaman ini digunakan
sebagai dupa dalam berbagai ritus keagamaan. Pada saat itu, tanaman tersebut
setidaknya sama berharganya dengan emas.
Thomas, sang peneliti Inggris
memaparkan tentang suku-suku yang “beruntung” ini dengan panjang lebar dan
menyatakan bahwa ia telah menemukan jejak sebuah kota kuno yang dibangun oleh
salah satu dari suku-suku ini21. Itulah kota yang dikenal suku Badui dengan
sebutan “Ubar”. Pada salah satu perjalanannya ke daerah tersebut, orang-orang
Badui yang hidup di padang pasir itu menunjukkan jalur-jalur usang dan
menyatakan bahwa jalur-jalur tersebut mengarah ke kota kuno Ubar. Thomas, yang
sangat berminat dengan hal ini meninggal sebelum mampu menuntaskan
penelitiannya.
Clapp, setelah mengkaji tulisan
Thomas, meyakini keberadaan kota yang hilang tersebut. Tanpa banyak membuang
waktu, ia memulai pene-litiannya. Clapp membuktikan keberadaan Ubar dengan dua
cara. Perta-ma, ia menemukan jalur-jalur yang menurut suku Badui benar-benar
ada. Ia meminta NASA (Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat) un-tuk
menyediakan foto satelit daerah tersebut. Setelah perjuangan yang panjang, ia
berhasil membujuk pihak yang berwenang untuk memotret daerah tersebut22.
Clapp melanjutkan mempelajari
berbagai manuskrip dan peta kuno di perpustakan Huntington di California.
Tujuannya adalah untuk mene-mukan peta dari daerah tesebut. Setelah melalui
penelitian singkat, ia me-nemukannya. Yang ditemukannya adalah sebuah peta yang
digambar oleh Ptolomeus, ahli geografi Yunani-Mesir di tahun 200 M. Pada peta
ini ditunjukkan lokasi sebuah kota tua yang ditemukan di daerah tersebut dan
jalan-jalan yang menuju kota tersebut.
Sementara itu, ia menerima kabar
bahwa NASA telah melakukan pemotretan. Dalam foto-foto tersebut, beberapa jalur
kafilah menjadi ter-lihat, suatu hal yang sulit dikenali dengan mata telanjang,
namun dapat dilihat sebagai satu kesatuan dari luar angkasa. Dengan
membandingkan foto-foto ini dengan peta tua yang di tangannya, akhirnya Clapp
menca-pai kesimpulan yang ia cari: jalur-jalur dalam peta tua sesuai dengan
jalur-jalur dalam gambar yang diambil dengan satelit. Tujuan akhir dari
jejak-jejak ini adalah sebuah situs yang luas yang ditengarai dahulunya
merupakan sebuah kota.
Akhirnya, lokasi kota legendaris yang
menjadi subjek cerita-cerita lisan suku Badui ditemukan. Tidak berapa lama
kemudian, penggalian dimulai dan peninggalan dari sebuah kota mulai tampak di
bawah gurun pasir. Demikianlah, kota yang hilang ini disebut sebagai “Ubar,
Atlantis di Padang Pasir”.
Lalu, apakah yang membuktikan kota
ini sebagai kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Al Quran?
Begitu reruntuhan-reruntuhan mulai
digali, diketahui bahwa kota yang hancur ini adalah milik kaum ‘Ad dan berupa
pilar-pilar Iram yang disebutkan dalam Al Quran, karena di antara berbagai
struktur yang di-gali terdapat menara-menara yang secara khusus disebutkan
dalam Al Quran. Dr. Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin
peng-galian mengatakan bahwa karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk
khas kota 'Ubar, dan karena Iram disebut mempunyai menara-menara atau
tiang-tiang, maka itulah bukti terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali
adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Al Quran:
Apakah kamu tidak memperhatikan
bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang
mempunyai ba-ngunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu
kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. (QS. Al Fajr, 89: 6-8) !
Kaum ‘Ad
Sejauh ini kita telah melihat
kemungkinan Ubar sebagai kota Iram yang disebutkan dalam Al Quran. Menurut Al
Quran, warga kota terse-but tidak mengindahkan seruan Nabi Hud yang membawakan
risalah kepada mereka dan memberi peringatan mereka, maka akhirnya mereka pun
dibinasakan.
Identitas kaum ‘Ad yang membangun
kota Iram juga telah menim-bulkan banyak perdebatan. Dalam berbagai catatan
sejarah tidak pernah disebutkan tentang suatu kaum pun yang telah memiliki
kebudayaan yang begitu maju atau tentang peradaban yang mereka kembangkan.
Mungkin akan dianggap aneh bahwa nama dari sebuah kaum semacam itu tidak
ditemukan dalam catatan sejarah.
Di sisi lain, seharusnya tidak
terlalu mengherankan bila tidak di-temukan keberadaan kaum ini dalam berbagai
catatan dan arsip pera-daban lama. Alasannya adalah bahwa kaum ini tinggal di
Arabia Selatan, sebuah daerah yang jauh dari kaum lain yang hidup di daerah
Mesopo-tamia dan Timur Tengah, dan hanya memiliki hubungan yang terbatas dengan
mereka. Adalah hal yang umum bagi sebuah negara, yang sangat jarang dikenal,
untuk tidak tercantum dalam catatan sejarah. Namun di samping itu, sangat
mungkin untuk menemukan cerita-cerita tentang kaum ‘Ad di antara orang-orang
yang hidup di sekitar Timur Tengah.
Alasan terpenting mengapa kaum ‘Ad
tidak disebutkan dalam catatan tertulis adalah karena saat itu komunikasi
tertulis tidak lazim di daerah tersebut. Sehingga, sangat mungkin kaum ‘Ad
telah membangun sebuah peradaban, namun belum pernah disebutkan dalam catatan
seja-rah dari peradaban lain yang melakukan dokumentasi. Jika saja kebuda-yaan
ini berlangsung sedikit lebih lama, mungkin lebih banyak lagi yang dapat
diketahui tentang kaum ‘Ad di saat ini.
Tidak ada catatan tertulis tentang
kaum ‘Ad, namun memungkinkan untuk menemukan informasi penting tentang
“keturunan” mereka dan untuk mendapatkan gambaran tentang kaum ‘Ad dari
informasi ini.
Bangsa Hadram, Anak Cucu ‘Ad
Tempat pertama yang diamati untuk
mencari kemungkinan jejak-jejak peradaban yang didirikan kaum 'Ad atau anak
cucu mereka, adalah Yaman Selatan di mana “Ubar, Atlantis di padang pasir” ditemukan
dan yang disebut sebagai “Arabia yang Beruntung”. Di Yaman selatan, empat
bangsa telah hidup sebelum zaman kita, dan disebut orang Yunani sebagai “Arab
yang Beruntung”. Mereka adalah bangsa Hadram, Saba’, Mina, dan Qataba. Keempat
bangsa ini berkuasa dalam waktu yang sing-kat pada daerah-daerah yang saling
berdekatan.
Banyak ilmuwan kontemporer mengatakan
bahwa kaum ‘Ad telah memasuki satu periode perubahan dan kemudian muncul
kembali di panggung sejarah. Dr. Mikhail H. Rahman seorang peneliti dari
Univer-sity of Ohio merasa yakin bahwa kaum ‘Ad adalah nenek moyang dari bangsa
Hadram, salah satu dari empat bangsa yang pernah menghuni Yaman Selatan. Bangsa
Hadramaut, yang muncul sekitar 500 SM, setidaknya dikenal di antara
bangsa-bangsa yang dinamai “Arabia yang Beruntung”. Bangsa-bangsa ini berkuasa
di wilayah Yaman Selatan cukup lama dan menghilang sepenuhnya pada 240 M pada
akhir dari periode panjang kemunduran.
Nama Hadram mengisyaratkan bahwa
mereka mungkin merupakan keturuan dari kaum ‘Ad. Penulis Yunani Pliny, yang
hidup pada abad ke-3 SM, menyebut suku bangsa ini sebagai "Adramitai"
yang berarti bangsa Hadram. Pengistilahan nama dalam bahasa Yunani adalah
akhiran - kata benda, kata benda "Adram" langsung mengisyaratkan bahwa
ia merupa-kan perubahan dari kata "Ad-i Ram" yang disebutkan dalam Al
Quran.
Ptolomeus, seorang ahli geografi
Yunani (150-100 SM) menunjukkan bagian selatan Semenanjung Arabia sebagai
tempat kaum yang disebut “Adramitai” pernah hidup. Daerah ini sampai sekarang
dikenal dengan nama “Hadhramaut”23. Ibu kota negara Hadram, Shabwah terletak di
barat Lembah Hadhramaut. Menurut berbagai legenda tua, Nabi Hud yang diutus
kepada kaum ‘Ad dimakamkan di Hadhramaut.
Faktor lain yang membenarkan
pemikiran bahwa Hadhramaut ada-lah penerus dari kaum ‘Ad adalah kekayaan
mereka. Bangsa Yunani me-negaskan kaum Hadram sebagai “suku bangsa terkaya di
dunia…”. Ca-tatan sejarah mengatakan bahwa Hadram sangat maju dalam pertanian
frankincense, salah satu tanaman paling berharga waktu itu. Mereka telah
menemukan cara-cara penggunaan baru bagi tanaman ini dan memper-luas
penggunaannya. Hasil pertanian bangsa Hadram jauh lebih banyak daripada
produksi tanaman tersebut di masa kini.
Apa yang ditemukan pada penggalian di
Shabwah yang dikenal seba-gai ibu kota Hadram sangatlah menarik. Dalam berbagai
penggalian yang dimulai pada tahun 1975 para ahli arkeologi sangat sulit
mencapai sisa-sisa kota tersebut karena tertimbun di bawah gurun pasir. Temuan
yang dihasilkan di akhir penggalian amat menakjubkan, karena kota kuno yang
belum tergali itu merupakan salah satu kota yang teramat luar biasa menarik
yang ditemukan hingga saat itu. Kota dikelilingi dinding yang berhasil diungkap
memiliki ukuran lebih luas daripada situs kuno Yaman mana pun dan istananya merupakan
bangunan yang sangat menakjub-kan.
Tidak diragukan lagi, sangat logis
untuk menduga bahwa bangsa Hadram telah mewarisi keunggulan arsitektur ini dari
pendahulunya kaum ‘Ad. Hud berkata kepada kaum ‘Ad ketika memperingatkan
mere-ka:
“Apakah kamu mendirikan pada
tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main? Dan kamu membuat
benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dalamnya)?” (QS.
Asy-Syu’araa’, 26: 128-129) !
Ciri menarik lainnya dari
bangunan-bangunan di Shabwah adalah tiang-tiang yang sangat rumit. Tiang-tiang
di Shabwah tampak sangat unik karena bundar dan disusun dalam serambi-serambi
melengkung, semen-tara semua situs di Yaman sejauh itu baru ditemukan memiliki
tiang-tiang monolit berbentuk persegi. Orang-orang Shabwah tentunya mewarisi
gaya arsitektur dari para leluhurnya, kaum ‘Ad. Fotius, Patriach Yunani
Bizantium dari Konstantinopel pada awal abad ke-9 M, melaku-kan penelitian
besar-besaran tentang Arabia Selatan dan aktivitas perda-gangan mereka, karena
ia mempunyai akses pada manuskrip Yunani Kuno yang sudah musnah saat ini, dan
khususnya karya Agatharachides (132 SM) tentang Laut Eritrea (Laut Merah).
Fotius menyebutkan dalam salah satu artikel-nya: “Diwartakan bahwa mereka
(bangsa Arab Selatan) telah membangun banyak tiang berlapis emas atau terbuat
dari perak. Ruangan-ruangan di antara tiang-tiang tersebut sangat mengagumkan
untuk dilihat”24.
Walaupun tidak langsung merujuk
kepada bangsa Hadram, tetap sa-ja pernyataan Fotius tersebut memberikan
gambaran tentang kemakmur-an dan kecakapan membangun orang-orang yang tinggal
di wilayah itu. Penulis klasik Yunani, Pliny dan Strabo menggambarkan kota-kota
ini sebagai “dihiasi oleh berbagai kuil dan istana yang indah”.
Ketika kita memikirkan bahwa para
penghuni kota ini adalah ketu-runan kaum ‘Ad, jelaslah mengapa Al Quran
menyebutkan tempat ting-gal kaum ‘Ad sebagai “kota Iram dengan tiang-tiangnya
yang tinggi”. (QS. Al Fajr, 89: 7).
Sumber-Sumber Mata Air dan Kebun-Kebun Kaum 'Ad
Saat ini, pemandangan paling sering
ditemui seseorang yang mela-kukan perjalanan ke Arab Selatan adalah padang
pasir teramat luas. Hampir semua tempat dihampari pasir, kecuali kota-kota dan
daerah-daerah yang telah dihijaukan kemudian. Gurun pasir ini telah ada sejak
ratusan dan mungkin ribuan tahun.
Namun dalam Al Quran, terdapat
informasi menarik dalam salah satu ayat yang berkenaan dengan kaum ‘Ad. Ketika
memperingatkan kaumnya, Nabi Hud mengingatkan tentang mata air dan kebun yang
telah dianugerahkan Allah kepada kaum ‘Ad:
“Maka bertakwalah kepada Allah dan
taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan
kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu
bina-tang-binatang ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air,
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS.
Asy-Syu'araa', 26: 131-135) !
Namun sebagaimana telah kita catat
sebelumnya, Ubar, yang dikenal dengan kota Iram dan tempat-tempat lainnya yang
berkemungkinan sebagai daerah hunian kaum ‘Ad, saat ini tertutup pasir seluruhnya.
Lalu, mengapa Hud menggunakan ungkapan semacam itu ketika memper-ingatkan
kaumnya?
Jawabannya tersembunyi dalam sejarah
perubahan iklim. Berbagai catatan sejarah mengungkapkan bahwa daerah-daerah
yang sekarang telah menjadi gurun pasir, pada suatu ketika pernah merupakan
tanah yang sangat hijau dan produktif. Kurang dari seribu tahun yang lampau,
sebagian besar wilayah tersebut dihampari kawasan hijau dan mata-mata air
sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, dan penghuninya meman-faatkan karunia
itu. Hutan-hutan melunakkan kerasnya iklim wilayah tersebut dan membuatnya
dapat dihuni. Padang pasir memang ada, namun tidak seluas seperti saat ini.
Di Arabia Selatan, bukti-bukti
penting telah diperoleh di wilayah tempat kaum ‘Ad pernah hidup, yang dapat memberikan
titik terang atas persoalan ini. Di sini nampak bahwa penduduk dari daerah ini
menggu-nakan sistem pengairan yang sudah sangat maju. Sistem pengairan ini
kemungkinan besar hanya dimaksudkan untuk satu tujuan, yaitu perta-nian.
Wilayah-wilayah tersebut, yang sekarang tak lagi layak huni, pada suatu masa
pernah diolah manusia.
Pencitraan satelit juga telah
mengungkapkan suatu sistem saluran-saluran air kuno yang luas dan
bendungan-bendungan yang digunakan untuk pengairan di sekitar Ramlat As
Sab’atayan yang diperkirakan mampu menghidupi sekitar 200.000 orang di
kota-kota yang berdekatan25. Seperti dinyatakan Doe, salah seorang peneliti
yang melakukan riset: “Begitu suburnya daerah di sekitar Ma’rib, sehingga
seseorang akan menganggap bahwa seluruh daerah di antara Ma’rib dan Hadhramaut
dahulunya pernah berada di bawah satu pengelolaan26.
Seorang penulis klasik Yunani, Pliny
menggambarkan bahwa wila-yah ini dahulunya sangat subur dengan gunung berhutan
lebat berse-limut kabut, sungai dan hutan yang tidak ada putusnya. Dalam
berbagai prasasti yang ditemukan di beberapa kuil kuno dekat Shabwah, ibu kota
Hadram, dikatakan bahwa binatang-binatang diburu di daerah tersebut dan
sebagiannya tersebut untuk dikorbankan. Semua ini mengungkap-kan bahwa daerah
tersebut pernah dihampari tanah yang subur, di sam-ping gurun pasir.
Kecepatan gurun pasir itu berkembang,
dapat dilihat pada beberapa riset terbaru yang dilakukan oleh Institut
Smithsonian di Pakistan. Se-buah kawasan yang dikenal sangat subur di abad
pertengahan telah ber-ubah menjadi gurun pasir dengan bukit-bukit pasir
setinggi enam meter; gurun tersebut diketahui bertambah rata-rata 6 inci per
harinya. Dengan kecepatan seperti ini pasir dapat menelan bangunan tertinggi
sekalipun dan menguburnya sehingga bangunan itu bagaikan tidak pernah ada.
Dengan demikian penggalian di Timna, Yaman pada tahun 1950 hampir seluruhnya
tertimbun lagi oleh pasir. Piramid-piramid di Mesir dulunya juga pernah
tertimbun pasir dan baru muncul ke permukaan setelah melalui penggalian yang
sangat lama. Singkatnya, jelaslah bahwa daerah yang kini dikenal sebagai gurun
pasir mungkin memiliki tampilan yang sangat jauh berbeda di masa lalu.
Bagaimana Kaum ‘Ad Dihancurkan?
Di dalam Al Quran, dituturkan bahwa
kaum ‘Ad telah dibinasakan dengan “angin badai yang dahsyat”. Dalam ayat-ayat
ini disebutkan bah-wa angin badai yang hebat berlangsung selama tujuh malam
delapan hari dan menghancurkan kaum ‘Ad keseluruhannya:
“Kaum ‘Ad pun telah mendustakan
(pula). Maka alangkah dahsyat-nya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya
Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari yang
naas terus-menerus.” (QS. Al Qamar, 54: 18-20) !
“Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah
dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah
menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus
menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati berge-limpangan
seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al
Haaqqah, 69: 6-7) !
Meskipun telah diperingatkan
sebelumnya, mereka tidak mengin-dahkan peringatan dan terus menolak nabi
mereka. Mereka berada dalam angan-angan seperti itu, sehingga mereka tidak
memahami apa yang sedang terjadi ketika melihat penghancuran tersebut menghampiri
mereka, dan tetap dalam keingkarannya :
“Maka tatkala mereka melihat azab
itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah
awan yang akan menurunkan hujan kepada kami. (Bukan!) bahkan itulah azab yang
kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang
pedih.” (QS. Al Ahqaaf, 46: 24) !
Dalam ayat ini disebutkan bahwa
mereka melihat awan yang akan menghancurkan mereka, namun tidak dapat
memahaminya dan berpikir bahwa itu merupakan awan yang membawa hujan. Ini
merupakan pe-tunjuk penting bagaimana bencana itu saat mendekati mereka, karena
sebuah badai topan yang sedang menyapu sepanjang gurun pasir juga akan tampak
seperti sebuah awan hujan dari kejauhan. Mungkin kaum ‘Ad tertipu oleh pemunculan
ini dan tidak menyadari bencana tersebut. Doe memberikan sebuah deskripsi
tentang badai pasir (yang sepertinya berdasarkan pengalaman pribadinya): “Tanda
pertama (dari badai debu atau pasir) adalah mendekatnya tembok udara mengandung
pasir yang tingginya mungkin mencapai ribuan kaki, yang diangkat oleh aliran
yang meninggi dengan kuat dan diaduk oleh angin yang cukup kuat”27.
“Ubar, Atlantis di padang pasir“ yang
dianggap sebagai sisa-sisa peninggalan kaum ‘Ad telah ditemukan kembali dari
bawah lapisan pasir yang bermeter-meter tebalnya. Tampaknya angin dahsyat yang
berlang-sung selama “tujuh malam dan delapan hari” sebagaimana disebutkan Al
Quran, menumpuk berton-ton pasir di atas kota itu dan menimbun pen-duduknya
hidup-hidup. Penggalian-penggalian di Ubar menunjukkan kemungkinan yang sama.
Majalah Prancis, Ca M'Interesse menyatakan hal yang serupa; “Ubar terkubur di
bawah pasir setebal 12 meter karena sebuah badai”28.
Bukti paling penting yang menunjukkan
bahwa kaum ‘Ad dikubur oleh sebuah badai pasir adalah kata “ahqaf” yang
digunakan dalam Al Quran untuk menandai lokasi dari kaum ‘Ad. Deskripsi yang
digunakan dalam ayat 21 surat Al Ahqaaf adalah sebagai berikut:
“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum
‘Ad yaitu ketika ia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan
sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan
sesu-dahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah,
sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.”
Ahqaaf dalam bahasa Arab berarti
“bukit-bukti pasir“ adalah bentuk plural dari kata “hiqf” yang berarti sebuah
bukit pasir. Ini menunjukkan bahwa kaum ‘Ad hidup di daerah yang penuh dengan
“bukit-bukit pasir” yang memberikan landasan paling masuk akal untuk sebuah
fakta bahwa mereka dikubur oleh sebuah badai pasir. Menurut sebuah
interpretasi, ahqaaf kehilangan artinya sebagai “bukit-bukit pasir” dan menjadi
nama sebuah tempat di selatan Yaman di mana kaum ‘Ad hidup. Ini tidak mengubah
fakta bahwa akar kata ini adalah bukit-bukit pasir, namun hanya menunjukkan
bahwa kata ini telah menjadi khas untuk daerah ini karena banyaknya bukit
pasir.
Penghancuran yang menimpa kaum ‘Ad
yang berasal dari badai pasir yang “mencabut orang-orang seakan mereka adalah
akar pohon palem yang tercerabut (dari dalam tanah)”, tentunya telah
memusnahkan seluruh penduduk dalam waktu yang sangat singkat, mereka yang
hing-ga saat itu hidup dengan mengolah lahan-lahan subur dan membangun
bendungan-bendungan serta saluran-saluran air irigasi untuk mereka sendiri.
Semua ladang olahan yang subur, saluran irigasi, dan bendungan milik masyarakat
yang pernah hidup di sana tertutup oleh pasir, dan seluruh kota dan penduduknya
terkubur hidup-hidup dalam pasir, setelah mereka dihancurkan, padang pasir
berkembang di sana dan menutupinya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Sebagai akibatnya dapat dikatakan
bahwa temuan sejarah dan arkeo-logi mengindikasikan bahwa kaum ‘Ad dan kota
Iram benar-benar per-nah ada dan dihancurkan seperti disebutkan dalam Al Quran.
Berdasar-kan penelitian lebih lanjut, sisa-sisa dari kaum ini telah ditemukan
kem-bali dari dalam gurun pasir.
Apa yang seharusnya dilakukan
seseorang kala memperhatikan sisa-sisa yang terkubur di dalam pasir adalah
mengambil peringatan sebagai-mana ditegaskan dalam Al Quran. Al Quran
menyatakan bahwa kaum ‘Ad telah sesat karena kesombongan mereka dan berkata: ”Siapakah
kekuatannya yang lebih besar dari kami?.” Di akhir ayat, dikatakan, “Dan apakah
mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang mencipta-kan mereka adalah
lebih besar kekuatan-Nya dari mereka?” (QS. Al Fushilaat, 41 : 15). !
Yang seharusnya dilakukan oleh
seorang insan adalah mengingat kenyataan yang tidak berubah sepanjang waktu ini
dan memahami bahwa Allah Yang Mahabesar dan Mahamulia; seorang insan hanya
dapat menjadi sejahtera dengan menyembah-Nya.
Picture Text
Sisa-sisa dari kota Ubar, tempat
tinggal kaum 'Ad, ditemukan di suatu tempat dekat tanjung Oman.
Banyak karya seni dan monumen dari
peradaban maju pernah dibangun di Ubar sebagaimana disebutkan dalam Al Quran.
Saat ini, hanya peningggalan-peninggalan di atas yang tersisa.
Penggalian yang dilakukan di Ubar.
Lokasi kota 'Ad ditemukan dengan
foto-foto yang diambil dari pesawat ulang alik. Dalam foto tersebut, tempat
jalur-jalur kafilah bertemu ditandai, dan mengarah ke Ubar.
1. Ubar, hanya dapat dilihat dari
luar angkasa sebelum dilakukan penggalian.
2. Kota yang berada 12 meter di bawah
pasir ditemukan dengan penggalian.
Saat ini, daerah dimana kaum 'Ad
pernah hidup penuh dengan gundukan pasir.
Penggalian-penggalian yang dilakukan
di Ubar, di mana sisa-sisa sebuah kota ditemukan di bawah lapisan pasir yang
ketebalannya bermeter-meter. Di daerah ini, diketahui bahwa bencana badai pasir
dapat menyebabkan pasir dalam jumlah yang sangat besar terkumpul dalam waktu
sekejap. Hal ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan dengan cara yang tidak
terduga-duga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar