Sabtu, 22 Agustus 2015

Mukjizat nabi muhammad Saw


Kebenaran Terbelahnya Bulan
Disini akan diuraikan sedikit tentang mukjizat Rasulullah saw baik secara fikih dan sains. Sebenarnya banyak sekali mukjizat Beliau, karena memang seluruh kehidupan beliau adalah menakjubkan.
1. Bulan Terbelah.
"Telah hampir saat (qiamat) dan telah terbelah bulan." (Quran, 54:1)"
Berita tentang terbelahnya bulan pada jaman Nabi saw banyak diriwayatkan oleh para Shahabat, sehingga hadis tentang terbelahnya bulan adalah hadis Muthawatir.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud: "Pada masa hidup Nabi saw, bulan terbelah dua dan melihat ini Nabi saw bersabda: "Saksikanlah!" (Sahih Bukhari, juz 4 no 830)"
Diriwayatkan oleh Anas: "Ketika orang-orang Mekah meminta Rasulullah saw untuk menunjukan mukjizat, maka Nabi menunjukan bulan yang terbelah." (Sahih Bukhari, juz 4 no 831)"
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: "Bulan terbelah menjadi dua pada masa hidup Nabi saw." (Sahih Bukhari, juz 4 no 832)"
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: "Orang-orang Mekah meminta Nabi saw untuk menunjukan sebuah mukjizat. Maka Beliau menunjukan bulan yang terbelah menjadi dua bagian, sehingga gunung Hira?itu dapat mereka lihat diantara dua belahannya." (Sahih Bukhari, juz 5 no 208)"
Diriwayatkan oleh 'Abdullah: "Diwaktu kami bersama-sama Rasulullah saw di Mina, maka terbelah bulan, lalu sebelahnya berlindung dibelakang gunung, maka sabda Rasulullah saw: "Saksikanlah!" Saksikanlah!" (Sahih Bukhari, juz 5 no 209)"
Diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Abbas: "Pada masa hidup Nabi saw bulan terbelah menjadi dua." (Sahih Bukhari, juz 5 no 210)"
Diriwayatkan oleh 'Abdullah: "Bulan terbelah menjadi dua." (Sahih Bukhari, juz 5 no 211)"
Lihat juga di : (Sahih Bukhari, juz 6 no 350) (Sahih Bukhari, juz 6 no 387) (Sahih Bukhari, juz 6 no 388) (Sahih Bukhari, juz 6 no 389) (Sahih Bukhari, juz 6 no 390) (Sahih Bukhari, juz 6 no 391) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa'l Janna wa'n-Nar juz 039 no 6721) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa'l Janna wa'n-Nar juz 039 no 6724) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa'l Janna wa'n-Nar, juz 039 no 6725) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa'l Janna wa'n-Nar, juz 039 no 6726) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa'l Janna wa'n-Nar juz 039 no 6728) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa'l Janna wa'n-Nar juz 039 no 6729) (Sahih Muslim, juz 039 no 6730)

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, "Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, .."

Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?"Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali...!!!"

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:

"Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap.... " sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??"

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati."

Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya:

Gambar diambil dari satelit Apolo 10

 
Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah...
Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, " Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna". Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?" Mereka pun menjawab, "Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, "Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali".

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, "Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, "Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah ... Maka aku pun berguman, "Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar, dan ... saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Segala puji bagiMu. Engkau adalah cahaya langit dan bumi. Segala puji bagiMu. Engkaulah yang mengatur segala urusan makhluk di langit dan di bumi. Segala puji hanyalah bagiMu. Engkau adalah Tuhan di langit dan bumi serta semua yang terkandung di antara keduanya. Engkau adalah benar. JanjiMu adalah benar. FirmanMu adalah benar. Peristiwa perjumpaan denganMu (Hari Akhirat) adalah benar. Syurga adalah benar. Neraka adalah benar. Hari Kiamat adalah benar. Ya Allah! Hanya kepadaMu aku berserah. KepadaMu jugalah aku beriman. KepadaMu jugalah aku bertawakkal. KepangkuanMu jugalah aku kembali. KepadaMu jugalah aku mengadu. KepadaMu jugalah aku mengambil keputusan. Maka ampunilah daku, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan dosa-dosaku yang akan datang, yang aku lakukan secara diam-diam ataupun terang-terangan. Engkau adalah Tuhanku. Tiada Tuhan melainkan Engkau


Merk Lipstick Berbahaya

 Merk Lipstick Berbahaya




Ternyata merek-merek lipstik terkenal justru adalah merek-merek yang memproduksi lipstik berbahaya yang bisa menyebabkan penyakit kanker yang selama ini tidak diketahui penyebabnya.  Lipstik-lipstik ini kebanyakan mengandung 'lead' suatu bahan logam yang berguna untuk menjaga agar lipstik di bibir tahan pengoksidaan udara (oxidation) atau tahan air (waterproof) Seperti yang kita ketahui di dunia kedokteran, 'Lead' adalah bahan logam yang menyebabkan penyakit maut : kanker!!!
Baru-baru ini produk lipstik bermerek 'Red Earth' menurunkan harga jual mereka dari HK$67 ke HK$9.9..........Lipstik itu ketahuan konsumen disana bahwa didalamnya mengandung 'Lead'.  Merek-merek berikut yang masih menggunakan 'Lead' sebagai bahan primadona-nya (tentu saja tidak akan disebutkan bahwa lipstik berikut ini mengandung 'Lead' di label masing-masing, duh!! Kalau pencuri ngaku, penjara penuh!!)

1. Christian Dior
2. LANCOME
3. CLINIQUE
4. Y.S.L
5. ESTEE LAUDER
6. SHISEIDO
7. RED EARTH (Lip Gloss)
8. CHANEL (Lip Conditioner)
9. Market America-Motives lipstick
10. Maybelline

Semakin tinggi kandugan 'Lead', semakin besar pula resiko terkena penyakit kanker jenis apa saja. Setelah dilakukan pengetesan, ternyata lipstik Y.S.L. mengandung 'Lead' yang paling tinggi. Lipstik ini ternyata diketahui memiliki daya tahan paling lama di bibir.
Lipstik bertahan lama di bibir karena pengaruh bahan logam 'Lead'. Bukan saja berbahaya bagi bibir, namun juga makanan yang kita makan, udara yang kita hirup, dan air ludah yang kita telan, paling tidak telah melewati zat ataupun gas ammonia yang dikeluarkan oleh 'Lead' tersebut.

Nah! berikut ini bisa dilakukan tes sederhana untuk mengetahui lipstik anda mengandung lead atau tidak, kalau dari test kecil ini saja sudah kelihatan, berarti lipstik anda benar2 sudah parah banget!!!

1.        
Goreskan lipstik beberapa kali ke tangan.
2.        
Gunakan cincin EMAS minimal 18 karat lalu sapukan ke goresan lipstik tersebut.
3.        
Kalau warna lipstik berganti menjadi kehitam-hitaman atau kusam, maka ketahuan bahwa lipstik anda mengandung bahan logam 'Lead' yang sudah overdosis.




Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan

Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan



Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:

“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 18)

Demikian Luqman melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)

Pada ayat yang lain Allah melarang pula:

“Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)

Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah  dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 458)

Kehinaan. Inilah yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di dunia maupun di akhirat.‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi :

“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)

Bahkan seorang yang sombong terancam dengan kemurkaan Allah.  Demikian yang kita dapati dari Rasulullah, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar :

“Barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)

Kesombongan (kibr) bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah k dan merendahkan hamba-hamba Allah k. Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah n tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar , “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang dikenakannya?” Beliau n menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau  menjawab: “Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)

Tak sedikit pun Rasulullah  membuka peluang bagi seseorang untuk bersikap sombong. Bahkan beliau senantiasa memerintahkan untuk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar  menyampaikan bahwa Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak seorang pun menyombongkan diri atas yang lain dan tak seorang pun berbuat melampaui batas terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2865)

Berlawanan dengan orang yang sombong, orang yang berhias dengan tawadhu’ akan menggapai kemuliaan dari sisi Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda:

“Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Tawadhu’ karena Allah ada dua makna. Pertama, merendahkan diri terhadap agama Allah, sehingga tidak tinggi hati dan sombong terhadap agama ini maupun untuk menunaikan hukum-hukumnya. Kedua, merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah  karena Allah , bukan karena takut terhadap mereka, ataupun mengharap sesuatu yang ada pada mereka, namun semata-mata hanya karena Allah . Kedua makna ini benar.
Apabila seseorang merendahkan diri karena Allah , maka Allah  akan mengangkatnya di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini. Seseorang yang merendahkan diri akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, akan disebut-sebut kebaikannya, dan akan dicintai oleh manusia. (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/365)

Tak hanya sebatas perintah semata, kisah-kisah dalam kehidupan Rasulullah  banyak melukiskan ketawadhu’an beliau. Beliau  adalah seorang manusia yang paling mulia di hadapan Allah . Meski demikian, beliau menolak panggilan yang berlebihan bagi beliau. Begitulah yang dikisahkan oleh Anas bin Malik  tatkala orang-orang berkata kepada Rasulullah , “Wahai orang yang terbaik di antara kami, anak orang yang terbaik di antara kami! Wahai junjungan kami, anak junjungan kami!” Beliau  pun berkata:

“Wahai manusia, hati-hatilah dengan ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang diberikan oleh Allah ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah, hamba-Nya dan utusan-Nya.” (HR. An-Nasa`i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786: hadits shahih menurut syarat Muslim)

Anas bin Malik  mengisahkan:

“Rasulullah  biasa mengunjungi orang-orang Anshar, lalu mengucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendoakannya.” (HR An. Nasa`i, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 796: hadits hasan)

Ketawadhu’an Rasulullah  ini menjadi gambaran nyata yang diteladani oleh para shahabat. Anas bin Malik  pernah melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam pada mereka. Beliau  mengatakan: “Nabi  biasa melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Memberikan salam kepada anak-anak ini dilakukan oleh Nabi  dan diikuti pula oleh para shahabat beliau . Hal ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yang baik, serta termasuk pendidikan dan pengajaran yang baik, serta bimbingan dan pengarahan kepada anak-anak, karena anak-anak apabila diberi salam, mereka akan terbiasa dengan hal ini dan menjadi sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka.(Syarh Riyadhish Shalihin, 1/366-367)

Pernah pula Abu Rifa’ah Tamim bin Usaid zmenuturkan sebuah peristiwa yang memberikan gambaran ketawadhu’an Nabi  serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum muslimin:

“Aku pernah datang kepada Rasulullah  ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang yang asing datang padamu untuk bertanya tentang agamanya, dia tidak mengetahui tentang agamanya.’ Maka Rasulullah  pun mendatangiku, kemudian diambilkan sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau mengajarkan padaku apa yang diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbahnya hingga selesai.” (HR. Muslim no. 876)

Begitu banyak anjuran maupun kisah kehidupan Rasulullah  yang melukiskan ketawadhu’an beliau. Demikian pula dari para shahabat . Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu. Jalan manakah kiranya yang hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya? Mengajarkan kerendahan hati hingga mendapati kebahagiaan di dua negeri, ataukah menanamkan benih kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan akhirat?
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


1 Thinatul khabal adalah keringat atau perasan dari penduduk neraka.
2 Hullah adalah pakaian yang terdiri dari dua potong baju.

Kaum Nabi Luth dan Kota yang Dijungkirbalikkan

Kaum Nabi Luth dan Kota yang Dijungkirbalikkan



“Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.”
(QS. Al Qamar, 54: 33-36) !

Luth hidup semasa dengan Ibrahim. Luth diutus sebagai rasul atas salah satu kaum tetangga Ibrahim. Kaum ini, sebagaimana di-utarakan oleh Al Quran, mempraktikkan perilaku menyimpang yang belum dikenal dunia saat itu, yaitu sodomi. Ketika Luth menyeru mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut dan menyampai-kan peringatan Allah, mereka mengabaikannya, mengingkari kenabi-annya, dan meneruskan penyimpangan mereka. Pada akhirnya kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang mengerikan.
Kota kediaman Luth, dalam Perjanjian Lama disebut sebagai kota Sodom. Karena berada di utara Laut Merah, kaum ini diketahui telah di-hancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Quran. Kajian arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada di wilayah Laut Mati yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania.
Sebelum mencermati sisa-sisa dari bencana ini, marilah kita lihat mengapa kaum Luth dihukum seperti ini. Al Quran menceritakan bagai-mana Luth memperingatkan kaumnya dan apa jawaban mereka:

“Kaum Luth telah mendustakan rasulnya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa ka-mu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata ‘Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu ‘.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 160-168 ) !

Sebagai jawaban atas ajakan ke jalan yang benar, kaum Luth justru mengancamnya. Kaumnya membenci Luth karena ia menunjuki mereka jalan yang benar, dan bermaksud menyingkirkannya dan orang-orang yang beriman bersamanya. Dalam ayat lain, kejadian ini dikisahkan se-bagai berikut:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri .” (QS. Al A'raaf, 7: 80-82) !

Luth menyeru kaumnya kepada sebuah kebenaran yang begitu nyata dan memperingatkan mereka dengan jelas, namun kaumnya sama sekali tidak mengindahkan peringatan macam apa pun dan terus menolak Luth dan tidak mengacuhkan azab yang telah ia sampaikan kepada mereka:

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguh-nya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang sebelumnya belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya menga-takan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” ( QS. Al ‘Ankabuut, 29: 28-29) !

Karena menerima jawaban sedemikian dari kaumnya, Luth meminta pertolongan kepada Allah.

“Ia berkata: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (QS. Al ‘Ankabuut, 29: 30) !

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” ( QS. Asy-Syu’araa’, 26:169) !

Atas doa Luth tersebut, Allah mengirimkan dua malaikat dalam wu-jud manusia. Kedua malaikat ini mengunjungi Ibrahim sebelum menda-tangi Luth. Di samping membawa kabar gembira kepada Ibrahim bahwa istrinya akan melahirkan seorang jabang bayi, kedua utusan itu menjelas-kan alasan pengiriman mereka: Kaum Luth yang angkara akan dihan-curkan:

“Ibrahim bertanya, “Apakah urusanmu hai para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membi-nasakan) orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 31-34) !

“Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).” (QS. Al Hijr, 15: 59-60) !

Setelah meninggalkan Ibrahim, para malaikat yang dikirim sebagai utusan lalu mendatangi Luth. Karena belum pernah bertemu utusan sebe-lumnya, Luth awalnya merasa khawatir, namun kemudian ia merasa te-nang setelah berbicara dengan mereka.

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepa-da Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena keda-tangan mereka, dan dia berkata, “Inilah hari yang amat sulit.” (QS. Huud, 11: 77) !

“Ia berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak di-kenal”. Para utusan menjawab: “Sebenarnya kami ini datang kepa-damu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan ka-mi datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang yang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu”. Dan Kami telah wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bah-wa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (QS. Al Hijr, 15 : 62-66) !

Sementara itu, kaum Luth telah mengetahui bahwa ia kedatangan tamu. Mereka tidak ragu-ragu untuk mendatangi tamu-tamu tersebut de-ngan niat buruk sebagaimana terhadap yang lain-lain sebelumnya. Mere-ka mengepung rumah Luth. Karena khawatir atas keselamatan tamunya, Luth berbicara kepada kaumnya sebagai berikut:

“Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.” (QS. Al Hijr, 15 : 68-69) !

Kaum Luth menjawab dengan marah:

“Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi) manusia.” (QS. Al Hijr, 15: 70) !

Merasa bahwa ia dan tamunya akan mendapatkan perlakuan keji, Luth berkata:

“Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu akan aku lakukan).” (QS. Huud, 11: 80) !

“Tamu”-nya mengingatkannya bahwa sesungguhnya mereka adalah utusan Allah dan berkata:

“Para utusan (malaikat) berkata: ”Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan da-pat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat ?“ (QS. Huud, 11 : 81) !

Ketika kelakuan jahat warga kota memuncak, Allah menyelamatkan Luth dengan perantaraan malaikat. Pagi harinya, kaum Luth dihancur-leburkan dengan bencana yang sebelumnya telah ia sampaikan.

“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (QS. Al Qamar, 54: 37-38) !

Ayat yang menerangkan penghancuran kaum ini sebagai berikut :

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, keti-ka matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS. Al Hijr, 15: 73-76) !

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud, 11: 82-83) !

“Kemudian Kami binasakan yang lain, dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu belerang), maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguh-nya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesung-guhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 172-175) !

Ketika kaum tersebut dihancurkan, hanya Luth dan pengikutnya, yang tidak lebih dari “sebuah keluarga”, yang diselamatkan. Istri Luth sendiri juga tidak percaya, dan ia juga dihancurkan.

“Dan (Kami juga yang telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerja-kan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelumnya?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mere-ka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang me-lampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura me-nyucikan diri”. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengi-kutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu belerang), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang memperturutkan dirinya dengan dosa dan kejahatan itu.” (QS. Al A'raaf, 7: 80-84) !

Demikianlah, Nabi Luth diselamatkan bersama para pengikut dan keluarganya, kecuali istrinya. Sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama, ia (Luth) berimigrasi bersama Ibrahim. Akan halnya kaum yang sesat itu, mereka dihancurkan dan tempat tinggal mereka diratakan de-ngan tanah.

"Tanda-Tanda yang Nyata" di Danau Luth
Ayat ke-82 Surat Huud dengan jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Luth. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.”
Pernyataan “menjungkirbalikkan (kota)” bermakna kawasan terse-but diluluhlantakkan oleh gempa bumi yang dahsyat. Sesuai dengan ini, Danau Luth, tempat penghancuran terjadi, mengandung bukti “nyata” dari bencana tersebut.
Kita kutip apa yang di-katakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai berikut:
Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis me-lewati daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam sa-tu hari terjerumus ke ke-dalaman. Kehancuran mereka terjadi melalui se-buah peristiwa gempa bu-mi dahsyat yang mung-kin disertai dengan letus-an, petir, keluarnya gas alam serta lautan api.13
Malahan, Danau Luth, atau yang lebih dikenal dengan Laut Mati, ter-letak tepat di puncak suatu kawasan seismik aktif, yaitu daerah gempa bumi:
Dasar dari Laut Mati berdekatan dengan runtuhan yang berasal dari peristi-wa tektonik. Lembah ini terletak pada sebuah tegangan yang merentang antara Danau Taberiya di Utara dan tengah-tengah Danau Arabah di Selatan.14
Peristiwa tersebut dilukiskan dengan “Kami menghujani mereka de-ngan batu belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubi” pada bagian akhir ayat. Ini semua mungkin berarti letusan gunung api yang terjadi di tepian Danau Luth, dan karenanya cadas dan batu yang meletus berbentuk “terbakar“ (kejadian serupa diceritakan da-lam ayat ke-173 Surat Asy-Syu’araa’ yang menyebutkan: “Kami menghu-jani mereka (dengan belerang), maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.“)
Berkaitan dengan hal ini, Werner Keller menulis :
Pergeseran patahan membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur lama sepanjang patahan. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menjulang dari gunung api yang sudah mati; bentangan lava yang luas dan lapisan basal yang dalam yang telah terdeposit pada permukaan batu kapur.15
Lava dan lapisan basal merupakan bukti terbesar bahwa letusan gu-nung api dan gempa bumi pernah terjadi di sini. Bencana yang dilukiskan dengan ungkapan “Kami menghujani mereka dengan batu belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubi“ dalam Al Quran besar kemungkinan menunjuk letusan vulkanis ini, dan Allah-lah Yang Mahatahu. Ungkapan “Ketika firman Kami telah terbukti, Kami jungkir-balikkan (kota)“, dalam ayat yang sama, mestilah menunjuk pada gempa bumi yang meng-akibatkan letusan gunung api di atas permukaan bu-mi dengan akibat yang dahsyat, serta retakan dan reruntuhan yang diaki-batkannya, dan hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.
“Tanda-tanda nyata” yang disampaikan oleh Danau Luth tentu sangat menarik. Umum  nya, ke-jadian yang diceritakan dalam Al Quran terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab, dan Mesir. Tepat di tengah-tengah semua ka-wasan ini terletak Danau Luth. Danau Luth, serta sebagian peristiwa yang terjadi di sekitarnya, pa-tut mendapat perhatian secara geologis. Danau tersebut diperkirakan berada 400 meter di bawah permukaan Laut Tengah. Karena lokasi ter-dalam dari danau tersebut adalah 400 meter, dasarnya berada di keda-laman 800 meter di bawah Laut Tengah. Inilah titik yang terendah di seluruh permukaan bumi. Di daerah lain yang lebih rendah dari permu-kaan laut, paling dalam adalah 100 meter. Sifat lain dari Danau Luth adalah kandungan garamnya yang sangat tinggi, kepekatannya hampir mencapai 30%. Oleh karena itu, tidak ada organisme hidup, semacam ikan atau lumut, yang dapat hidup di dalam danau ini. Hal inilah yang menyebabkan Danau Luth dalam literatur-literatur Barat lebih sering disebut sebagai “ Laut Mati”.
Kejadian yang menimpa kaum Luth, yang disebutkan dalam Al Quran berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 1.800 SM. Berdasarkan pada penelitian arkeologis dan geologis, peneliti Jerman Werner Keller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah benar-benar berada di lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari Danau Luth, dan bahwa pernah terdapat situs yang besar dan dihuni di daerah itu.
Karakteristik paling menarik dari struktur Danau Luth adalah bukti yang menunjukkan bagaimana peristiwa bencana yang diceritakan dalam Al Quran terjadi:
Pada pantai timur Laut Mati, semenanjung Al Lisan menjulur seperti lidah jauh ke dalam air. Al Lisan berarti "lidah" dalam ba-hasa Arab. Dari daratan tidak tampak bahwa tanah berguguran di bawah permukaan air pada su-dut yang sangat luar biasa, me-misahkan laut menjadi dua ba-gian. Di sebelah kanan semenan-jung, lereng menghunjam tajam ke kedalaman 1200 kaki. Di sebe-lah kiri semenanjung, secara luar biasa kedalaman air tetap dang-kal. Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kedalam-annya hanya berkisar antara 50 - 60 kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut Mati ini, mulai dari semenanjung Al Lisan sampai ke ujung paling Selatan, dulunya merupakan Lembah Siddim16.
Werner Keller menenggarai bahwa bagian dangkal ini, yang ditemu-kan terbentuk belakangan, merupakan hasil dari gempa bumi dahsyat yang telah disebutkan di atas. Di sinilah Sodom dan Gomorah berada, yakni tempat kaum Luth pernah hidup.
Suatu ketika, daerah ini dapat dilintasi dengan berjalan kaki. Namun sekarang, Lembah Siddim, tempat Sodom dan Gomorah dahulunya ber-ada, ditutupi oleh permukaan datar bagian Laut Mati yang rendah. Ke-runtuhan dasar danau akibat bencana alam mengerikan yang terjadi di awal alaf kedua sebelum Masehi mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke rongga yang baru terbentuk ini dan memenuhi lembah sungai dengan air asin.
Jejak-jejak Danau Luth dapat terlihat.... Jika seseorang bersampan me-lintasi Danau Luth ke titik paling utara dan matahari sedang bersinar pada arah yang tepat, maka ia akan melihat sesuatu yang sangat me-nakjubkan. Pada jarak tertentu dari pantai dan jelas terlihat di bawah permukaan air, tampaklah gambaran bentuk hutan yang diawetkan oleh kandungan garam Laut Mati yang sangat tinggi. Batang dan akar di bawah air yang berwarna hijau berkilauan tampak sangat kuno. Lembah Siddim, di mana pepohonan ini dahulu kala bermekaran daunnya menutupi batang dan ranting merupakan salah satu tempat terindah di daerah ini. Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Luth diungkapkan oleh para peneliti geologi. Mereka mengungkapkan bahwa gempa bumi yang menghancurkan kaum Luth terjadi sebagai akibat rekahan yang sangat panjang di dalam kerak bumi (garis patahan) sepan-jang 190 km yang membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at membuat air terjun sepanjang 180 meter keseluruhannya. Kedua hal ini dan fakta bahwa Danau Luth berada 400 meter di bawah permukaan laut adalah dua bukti penting yang menunjukkan bahwa peristiwa geologis yang sangat hebat pernah terjadi di sini.
Struktur Sungai Sheri’at dan Danau Luth yang menarik hanya merupakan sebagian kecil dari re-kahan atau patahan yang melintas dari kawasan bumi tersebut. Kon-disi dan panjang rekahan ini baru ditemukan akhir-akhir ini.
Rekahan tersebut berawal da-ri tepian Gunung Taurus, meman-jang ke pantai selatan Danau Luth dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, dan ber-akhir di Afrika. Di sepanjangnya teramati kegiatan-kegiatan vulkanis yang kuat. Batuan basal hitam dan lava terdapat di Gunung Galilea di Israel, daerah dataran tinggi Yordan, Teluk Aqaba, dan daerah sekitarnya.
Seluruh reruntuhan dan bukti geografis tersebut menunjukan bahwa bencana geologis dahsyat pernah terjadi di Danau Luth. Werner Keller menulis:
Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis me-lewati daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman. Kehancuran mereka terjadi melalui sebu-ah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan, petir, keluarnya gas alam serta lautan api. Pergeseran patahan membang-kitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur lama sepanjang patahan. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menjulang dari gunung api yang sudah mati; bentangan lava yang luas dan lapisan basal yang dalam yang telah terdeposit pada permukaan batu kapur.17
National Geographic edisi Desember 1957 menyatakan sebagai berikut:
Gunung Sodom, tanah gersang dan tandus muncul secara tajam di atas Laut Mati. Belum pernah seorang pun menemukan kota Sodom dan Gomorrah yang dihancurkan, namum para akademisi percaya bahwa mereka berada di lembah Siddim yang melintang dari tebing terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati menelan mereka setelah gempa bumi.18

Pompei Berakhir Serupa

Al Quran memberi tahu kita dalam ayat berikut bahwa tidak ada perubahan dalam hukum Allah.

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mere-ka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Ren-cana itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlaku-nya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang ter-dahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah.” (QS. Faathir, 35: 42-43) !

Ya, “tidak akan ditemukan perubahan dalam sunnah Allah”. Siapa pun, yang menentang hukum-Nya dan memberontak terhadap-Nya, akan menghadapi hukum suci yang sama. Pompei, sebuah simbol keme-rosotan Kekaisaran Romawi, juga melakukan perilaku seksual menyim-pang. Kesudahannya pun serupa dengan kaum Luth.
Kehancuran Pompei disebabkan oleh letusan gunung Vesuvius.
Gunung Vesuvius adalah simbol bagi Italia, terutama kota Naples. Karena berdiam diri selama dua ribu tahun terakhir, Vesuvius dinamai “Gunung Peringatan”. Gunung ini dinamai demikian bukannya tanpa sebab. Bencana yang menimpa Sodom dan Gomorrah sangat mirip dengan bencana yang menghancurkan Pompei.
Di sebelah kanan Vesuvius terletak kota Naples dan di sebelah timur terletak Pompei. Lava dan debu dari letusan vulkanis dahsyat yang terjadi dua alaf yang lalu memerangkap warga kota tersebut. Bencana tersebut terjadi begitu tiba-tiba, sehingga segala sesuatu di kota itu terperangkap di tengah kehidupan sehari-hari dan hingga kini tetap seperti apa adanya dua alaf yang lalu. Seolah waktu telah dibekukan.
Pemusnahan Pompei dari muka bumi dengan bencana seperti ini bu-kan tanpa alasan. Catatan historis menunjukkan bahwa kota tersebut ada-lah sarang foya-foya dan perilaku menyimpang. Kota ini dikenal dengan meningkatnya pelacuran begitu tinggi sampai-sampai jumlah rumah bordil tidak terhitung lagi. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya di-gantungkan di depan pintu-pintu rumah bordil. Menurut tradisi yang ber-akar dari kepercayaan Mithra ini, organ seksual dan persetubuhan tidak seharusnya disembunyikan, namun diper-tontonkan secara terang-terangan.
Namun lava Vesuvius telah menyapu bersih seluruh kota dari peta dengan seke-tika. Segi yang paling menarik dari peris-tiwa ini adalah bahwa tidak ada seorang pun melarikan diri walau demikian he-bohnya letusan Vesuvius. Sepertinya me-reka sama sekali tidak menyadari bencana tersebut, seolah-olah mereka sedang ter-kena mantra. Sebuah keluarga yang sedang menyantap makanan mereka membatu saat itu juga. Banyak pasangan ditemukan membatu dalam keadaan se-dang berhubungan badan. Hal yang pa-ling menarik adalah bahwa terdapat pa-sangan berjenis kelamin sama dan pasang-an muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari beberapa jasad membatu yang digali dari Pompei tidak rusak, ekspresi wajah-wajah tersebut pada umumnya menun-jukkan kebingungan.
Di sinilah terdapat aspek yang paling tak terpahami dari bencana itu. Bagaimana mungkin ribuan orang yang menunggu untuk dijemput maut tanpa melihat dan mendengar apa pun?
Aspek ini menunjukkan bahwa musnahnya Pompei mirip dengan peristiwa-peristiwa penghancuran yang disebutkan dalam Al Quran, karena Al Quran secara jelas menyebutkan “pembinasaan yang tiba-tiba“ ketika menceritakan berbagai peristiwa itu. Sebagai contoh, “warga kota” yang disebutkan dalam Surat Yaasiin mati seketika secara bersamaan. Keadaan ini diceritakan dalam Surat Yaasiin ayat 29 sebagai berikut:

“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.”

Dalam ayat 31 Surat Al Qamar, sekali lagi “pembinasaan seketika” ditekankan ketika penghancuran kaum Tsamud dikisahkan:

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput ke-ring (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

Kematian warga kota Pompei terjadi seketika sebagaimana peristiwa-peristiwa yang diceritakan pada ayat-ayat di atas.
Meskpun demikian, tidak banyak hal yang berubah di tempat Pompei pernah berdiri. Daerah Naples, tempat terjadinya kerusakan, tidak meng-alami yang terjadi di daerah Pompei yang tidak bermoral. Kepulauan Capri adalah basis bagi kaum homoseksual dan kaum nudis bertempat tinggal. Kepulauan Capri ditampilkan sebagai “surga homoseksual” da-lam iklan pariwisata. Tidak hanya di kepulauan Capri dan di Italia saja, namun hampir di seluruh dunia kemerosotan moral yang sama sedang terjadi, dan manusia tetap berkeras untuk tidak mengambil pelajaran dari pengalaman mengerikan kaum-kaum terdahulu.

Picture Text


Sebuah foto satelit dari daerah tempat tinggal kaum Luth dahulu.

Danau Luth, atau disebut juga Laut Mati.

Foto-foto Danau Luth yang diambil dari satelit.

Sebuah ilustrasi yang menunjukkan letusan gunung berapi dan keruntuhan yang mengikutinya, yang memusnahkan seluruh kaum.

Pandangan jarak jauh dari Danau Luth

Pandangan atas dari pegunungan di sekitar Danau Luth

Sisa-sisa dari kota yang terkubur ke dalam danau, ditemukan di tepian danau. Peninggalan ini menunjukkan bahwa kaum Luth telah memiliki standar hidup yang cukup tinggi.

Penghancuran kaum Luth telah mengilhami banyak pelukis. Salah satunya seperti tampak di atas.

Gambar di atas menunjukkan kemewahan dan kemakmuran kota Pompei sebelum terjadinya bencana.

Mayat-mayat membatu yang ditemukan pada penggalian di Pompei.

Contoh lain dari mayat-mayat membatu yang ditemukan
di antara reruntuhan Pompei.

Beberapa contoh lain dari mayat-mayat membatu yang ditemukan di Pompei. Gambar di sebelah kiri adalah contoh yang sangat tepat untuk menunjukkan betapa cepatnya bencana tersebut terjadi.



Bab 4

Kaum ’Ad dan Ubar, “Atlantis di Padang Pasir”



“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al Haaqqah, 69: 6-8) !

Kaum lain yang dimusnahkan dan diberitakan dalam berbagai surat dalam Al Quran adalah kaum 'Ad, yang disebutkan sete-lah kaum Nuh. Nabi Hud yang diutus untuk kaum ‘Ad meme-rintahkan mereka, sebagaimana yang telah dilakukan nabi-nabi lainnya, untuk beriman kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dan mematuhi dirinya sebagai nabi pada waktu itu. Namun mereka menang-gapinya dengan rasa permusuhan. Ia didakwa sebagai seorang bodoh, pembohong, dan berusaha mengubah apa yang telah dilakukan para leluhur mereka.
Dalam Surat Hud semua hal yang terjadi antara Hud dengan kaum-nya diceritakan secara terperinci:

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.”
“Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?”
Dan (dia berkata): ”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”
Kaum ‘Ad berkata: ”Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada ka-mi suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan mening-galkan sembahan-sembahan kami karena perbuatanmu, dan kami tidak akan sekali-kali mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan pe-nyakit gila atas dirimu.”
Hud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalan-kanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. “
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.
Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekua-saan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menantang (kebenaran).
Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Hud itu.” (QS. Huud, 11: 50-60) !

Surat lain yang menyebutkan tentang kaum ‘Ad adalah surat Asy-Syu’araa’. Dalam surat ini ditekankan beberapa karakteristik dari kaum ‘Ad. Menurut surat ini kaum ‘Ad adalah kaum yang “mendirikan ba-ngunan di setiap tempat yang tinggi” dan orang-orangnya “membangun gedung-gedung yang indah dengan harapan mereka akan hidup di dalamnya (selamanya)”. Disamping itu, mereka berbuat kejahatan dan berlaku bengis. Ketika Hud memperingatkan kaumnya, mereka mengo-mentari kata-katanya sebagai “kebiasaan kuno”. Mereka sangat yakin bahwa tidak ada hal yang akan terjadi terhadap mereka.
“Kaum ‘Ad telah mendustakan para rasul.
Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul; kepercayaan (yang diutus) kepadamu.
Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan un-tuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan mak-sud supaya kamu kekal (di dunia)?
Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis.
Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepa-damu apa yang kamu ketahui.
Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak dan anak-anak,
dan kebun-kebun dan mata air,
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.”
Mereka menjawab: ”Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab”.
Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Se-sungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 123-140) !

Kaum yang menunjukkan permusuhan kepada Hud dan melawan Allah itu benar-benar dibinasakan. Badai pasir yang mengerikan membi-nasakan kaum ‘Ad seakan-akan mereka “tidak pernah ada”.

Temuan Arkeologis di Kota Iram

Pada awal tahun 1990 muncul keterangan pers dalam beberapa surat kabar terkemuka di dunia yang menyatakan “Kota Legenda Arabia yang Hilang Telah Ditemukan”, “Kota Legenda Arabia Ditemukan”, “Ubar, Atlantis di Padang Pasir.” Yang membuat temuan arkeologis ini lebih menarik adalah kenyataan bahwa kota ini juga disebut dalam Al Quran. Banyak orang, yang sejak dahulu beranggapan bahwa kaum ‘Ad sebagai-mana diceritakan dalam Al Quran hanyalah sebuah legenda atau berang-gapan bahwa lokasi mereka tidak akan pernah ditemukan, tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka atas penemuan ini. Penemuan kota ini, yang hanya disebutkan dalam cerita lisan Suku Badui, membangkit-kan minat dan rasa keingintahuan yang besar.
Adalah Nicholas Clapp, seorang arkeolog amatir yang menemukan kota legendaris yang disebutkan dalam Al Quran ini19. Sebagai seorang Arabophile dan pembuat film dokumenter berkualitas, Clapp telah men-jumpai sebuah buku yang sangat menarik selama penelitiannya tentang sejarah Arab. Buku ini berjudul Arabia Felix yang ditulis oleh seorang pe-neliti Inggris bernama Bertram Thomas pada tahun 1932. Arabia Felix adalah penamaan Romawi untuk bagian selatan semenanjung Arabia yang dewasa ini mencakup Yaman dan sebagian besar Oman. Bangsa Yunani menyebut daerah ini “Eudaimon Arabia”. Sarjana Arab abad per-tengahan menyebutnya sebagai “Al Yaman As-Sa'idah”20.
Semua nama tersebut berarti “Arabia yang Beruntung”, karena orang-orang yang hidup di daerah tersebut di masa lalu dikenal sebagai orang-orang yang paling beruntung pada zamannya. Lalu, apakah yang menjadi alasan bagi penamaan seperti itu?
Keberuntungan mereka sebagian berkaitan dengan letak mereka yang strategis menjadi perantara dalam perdagangan rempah-rempah antara India dengan tempat-tempat di utara semenanjung Arab. Di sam-ping itu, orang-orang yang berdiam di daerah ini memproduksi dan men-distribusikan "frankincense" sejenis getah wangi dari pepohonan langka. Karena sangat disukai oleh masyarakat kuno, tanaman ini digunakan sebagai dupa dalam berbagai ritus keagamaan. Pada saat itu, tanaman tersebut setidaknya sama berharganya dengan emas.
Thomas, sang peneliti Inggris memaparkan tentang suku-suku yang “beruntung” ini dengan panjang lebar dan menyatakan bahwa ia telah menemukan jejak sebuah kota kuno yang dibangun oleh salah satu dari suku-suku ini21. Itulah kota yang dikenal suku Badui dengan sebutan “Ubar”. Pada salah satu perjalanannya ke daerah tersebut, orang-orang Badui yang hidup di padang pasir itu menunjukkan jalur-jalur usang dan menyatakan bahwa jalur-jalur tersebut mengarah ke kota kuno Ubar. Thomas, yang sangat berminat dengan hal ini meninggal sebelum mampu menuntaskan penelitiannya.
Clapp, setelah mengkaji tulisan Thomas, meyakini keberadaan kota yang hilang tersebut. Tanpa banyak membuang waktu, ia memulai pene-litiannya. Clapp membuktikan keberadaan Ubar dengan dua cara. Perta-ma, ia menemukan jalur-jalur yang menurut suku Badui benar-benar ada. Ia meminta NASA (Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat) un-tuk menyediakan foto satelit daerah tersebut. Setelah perjuangan yang panjang, ia berhasil membujuk pihak yang berwenang untuk memotret daerah tersebut22.
Clapp melanjutkan mempelajari berbagai manuskrip dan peta kuno di perpustakan Huntington di California. Tujuannya adalah untuk mene-mukan peta dari daerah tesebut. Setelah melalui penelitian singkat, ia me-nemukannya. Yang ditemukannya adalah sebuah peta yang digambar oleh Ptolomeus, ahli geografi Yunani-Mesir di tahun 200 M. Pada peta ini ditunjukkan lokasi sebuah kota tua yang ditemukan di daerah tersebut dan jalan-jalan yang menuju kota tersebut.
Sementara itu, ia menerima kabar bahwa NASA telah melakukan pemotretan. Dalam foto-foto tersebut, beberapa jalur kafilah menjadi ter-lihat, suatu hal yang sulit dikenali dengan mata telanjang, namun dapat dilihat sebagai satu kesatuan dari luar angkasa. Dengan membandingkan foto-foto ini dengan peta tua yang di tangannya, akhirnya Clapp menca-pai kesimpulan yang ia cari: jalur-jalur dalam peta tua sesuai dengan jalur-jalur dalam gambar yang diambil dengan satelit. Tujuan akhir dari jejak-jejak ini adalah sebuah situs yang luas yang ditengarai dahulunya merupakan sebuah kota.
Akhirnya, lokasi kota legendaris yang menjadi subjek cerita-cerita lisan suku Badui ditemukan. Tidak berapa lama kemudian, penggalian dimulai dan peninggalan dari sebuah kota mulai tampak di bawah gurun pasir. Demikianlah, kota yang hilang ini disebut sebagai “Ubar, Atlantis di Padang Pasir”.
Lalu, apakah yang membuktikan kota ini sebagai kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Al Quran?
Begitu reruntuhan-reruntuhan mulai digali, diketahui bahwa kota yang hancur ini adalah milik kaum ‘Ad dan berupa pilar-pilar Iram yang disebutkan dalam Al Quran, karena di antara berbagai struktur yang di-gali terdapat menara-menara yang secara khusus disebutkan dalam Al Quran. Dr. Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin peng-galian mengatakan bahwa karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota 'Ubar, dan karena Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka itulah bukti terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Al Quran:

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai ba-ngunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. (QS. Al Fajr, 89: 6-8) !

Kaum ‘Ad

Sejauh ini kita telah melihat kemungkinan Ubar sebagai kota Iram yang disebutkan dalam Al Quran. Menurut Al Quran, warga kota terse-but tidak mengindahkan seruan Nabi Hud yang membawakan risalah kepada mereka dan memberi peringatan mereka, maka akhirnya mereka pun dibinasakan.
Identitas kaum ‘Ad yang membangun kota Iram juga telah menim-bulkan banyak perdebatan. Dalam berbagai catatan sejarah tidak pernah disebutkan tentang suatu kaum pun yang telah memiliki kebudayaan yang begitu maju atau tentang peradaban yang mereka kembangkan. Mungkin akan dianggap aneh bahwa nama dari sebuah kaum semacam itu tidak ditemukan dalam catatan sejarah.
Di sisi lain, seharusnya tidak terlalu mengherankan bila tidak di-temukan keberadaan kaum ini dalam berbagai catatan dan arsip pera-daban lama. Alasannya adalah bahwa kaum ini tinggal di Arabia Selatan, sebuah daerah yang jauh dari kaum lain yang hidup di daerah Mesopo-tamia dan Timur Tengah, dan hanya memiliki hubungan yang terbatas dengan mereka. Adalah hal yang umum bagi sebuah negara, yang sangat jarang dikenal, untuk tidak tercantum dalam catatan sejarah. Namun di samping itu, sangat mungkin untuk menemukan cerita-cerita tentang kaum ‘Ad di antara orang-orang yang hidup di sekitar Timur Tengah.
Alasan terpenting mengapa kaum ‘Ad tidak disebutkan dalam catatan tertulis adalah karena saat itu komunikasi tertulis tidak lazim di daerah tersebut. Sehingga, sangat mungkin kaum ‘Ad telah membangun sebuah peradaban, namun belum pernah disebutkan dalam catatan seja-rah dari peradaban lain yang melakukan dokumentasi. Jika saja kebuda-yaan ini berlangsung sedikit lebih lama, mungkin lebih banyak lagi yang dapat diketahui tentang kaum ‘Ad di saat ini.
Tidak ada catatan tertulis tentang kaum ‘Ad, namun memungkinkan untuk menemukan informasi penting tentang “keturunan” mereka dan untuk mendapatkan gambaran tentang kaum ‘Ad dari informasi ini.

Bangsa Hadram, Anak Cucu ‘Ad

Tempat pertama yang diamati untuk mencari kemungkinan jejak-jejak peradaban yang didirikan kaum 'Ad atau anak cucu mereka, adalah Yaman Selatan di mana “Ubar, Atlantis di padang pasir” ditemukan dan yang disebut sebagai “Arabia yang Beruntung”. Di Yaman selatan, empat bangsa telah hidup sebelum zaman kita, dan disebut orang Yunani sebagai “Arab yang Beruntung”. Mereka adalah bangsa Hadram, Saba’, Mina, dan Qataba. Keempat bangsa ini berkuasa dalam waktu yang sing-kat pada daerah-daerah yang saling berdekatan.
Banyak ilmuwan kontemporer mengatakan bahwa kaum ‘Ad telah memasuki satu periode perubahan dan kemudian muncul kembali di panggung sejarah. Dr. Mikhail H. Rahman seorang peneliti dari Univer-sity of Ohio merasa yakin bahwa kaum ‘Ad adalah nenek moyang dari bangsa Hadram, salah satu dari empat bangsa yang pernah menghuni Yaman Selatan. Bangsa Hadramaut, yang muncul sekitar 500 SM, setidaknya dikenal di antara bangsa-bangsa yang dinamai “Arabia yang Beruntung”. Bangsa-bangsa ini berkuasa di wilayah Yaman Selatan cukup lama dan menghilang sepenuhnya pada 240 M pada akhir dari periode panjang kemunduran.
Nama Hadram mengisyaratkan bahwa mereka mungkin merupakan keturuan dari kaum ‘Ad. Penulis Yunani Pliny, yang hidup pada abad ke-3 SM, menyebut suku bangsa ini sebagai "Adramitai" yang berarti bangsa Hadram. Pengistilahan nama dalam bahasa Yunani adalah akhiran - kata benda, kata benda "Adram" langsung mengisyaratkan bahwa ia merupa-kan perubahan dari kata "Ad-i Ram" yang disebutkan dalam Al Quran.
Ptolomeus, seorang ahli geografi Yunani (150-100 SM) menunjukkan bagian selatan Semenanjung Arabia sebagai tempat kaum yang disebut “Adramitai” pernah hidup. Daerah ini sampai sekarang dikenal dengan nama “Hadhramaut”23. Ibu kota negara Hadram, Shabwah terletak di barat Lembah Hadhramaut. Menurut berbagai legenda tua, Nabi Hud yang diutus kepada kaum ‘Ad dimakamkan di Hadhramaut.
Faktor lain yang membenarkan pemikiran bahwa Hadhramaut ada-lah penerus dari kaum ‘Ad adalah kekayaan mereka. Bangsa Yunani me-negaskan kaum Hadram sebagai “suku bangsa terkaya di dunia…”. Ca-tatan sejarah mengatakan bahwa Hadram sangat maju dalam pertanian frankincense, salah satu tanaman paling berharga waktu itu. Mereka telah menemukan cara-cara penggunaan baru bagi tanaman ini dan memper-luas penggunaannya. Hasil pertanian bangsa Hadram jauh lebih banyak daripada produksi tanaman tersebut di masa kini.
Apa yang ditemukan pada penggalian di Shabwah yang dikenal seba-gai ibu kota Hadram sangatlah menarik. Dalam berbagai penggalian yang dimulai pada tahun 1975 para ahli arkeologi sangat sulit mencapai sisa-sisa kota tersebut karena tertimbun di bawah gurun pasir. Temuan yang dihasilkan di akhir penggalian amat menakjubkan, karena kota kuno yang belum tergali itu merupakan salah satu kota yang teramat luar biasa menarik yang ditemukan hingga saat itu. Kota dikelilingi dinding yang berhasil diungkap memiliki ukuran lebih luas daripada situs kuno Yaman mana pun dan istananya merupakan bangunan yang sangat menakjub-kan.
Tidak diragukan lagi, sangat logis untuk menduga bahwa bangsa Hadram telah mewarisi keunggulan arsitektur ini dari pendahulunya kaum ‘Ad. Hud berkata kepada kaum ‘Ad ketika memperingatkan mere-ka:

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main? Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dalamnya)?” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 128-129) !

Ciri menarik lainnya dari bangunan-bangunan di Shabwah adalah tiang-tiang yang sangat rumit. Tiang-tiang di Shabwah tampak sangat unik karena bundar dan disusun dalam serambi-serambi melengkung, semen-tara semua situs di Yaman sejauh itu baru ditemukan memiliki tiang-tiang monolit berbentuk persegi. Orang-orang Shabwah tentunya mewarisi gaya arsitektur dari para leluhurnya, kaum ‘Ad. Fotius, Patriach Yunani Bizantium dari Konstantinopel pada awal abad ke-9 M, melaku-kan penelitian besar-besaran tentang Arabia Selatan dan aktivitas perda-gangan mereka, karena ia mempunyai akses pada manuskrip Yunani Kuno yang sudah musnah saat ini, dan khususnya karya Agatharachides (132 SM) tentang Laut Eritrea (Laut Merah). Fotius menyebutkan dalam salah satu artikel-nya: “Diwartakan bahwa mereka (bangsa Arab Selatan) telah membangun banyak tiang berlapis emas atau terbuat dari perak. Ruangan-ruangan di antara tiang-tiang tersebut sangat mengagumkan untuk dilihat”24.
Walaupun tidak langsung merujuk kepada bangsa Hadram, tetap sa-ja pernyataan Fotius tersebut memberikan gambaran tentang kemakmur-an dan kecakapan membangun orang-orang yang tinggal di wilayah itu. Penulis klasik Yunani, Pliny dan Strabo menggambarkan kota-kota ini sebagai “dihiasi oleh berbagai kuil dan istana yang indah”.

Ketika kita memikirkan bahwa para penghuni kota ini adalah ketu-runan kaum ‘Ad, jelaslah mengapa Al Quran menyebutkan tempat ting-gal kaum ‘Ad sebagai “kota Iram dengan tiang-tiangnya yang tinggi”. (QS. Al Fajr, 89: 7).

Sumber-Sumber Mata Air dan Kebun-Kebun Kaum 'Ad

Saat ini, pemandangan paling sering ditemui seseorang yang mela-kukan perjalanan ke Arab Selatan adalah padang pasir teramat luas. Hampir semua tempat dihampari pasir, kecuali kota-kota dan daerah-daerah yang telah dihijaukan kemudian. Gurun pasir ini telah ada sejak ratusan dan mungkin ribuan tahun.
Namun dalam Al Quran, terdapat informasi menarik dalam salah satu ayat yang berkenaan dengan kaum ‘Ad. Ketika memperingatkan kaumnya, Nabi Hud mengingatkan tentang mata air dan kebun yang telah dianugerahkan Allah kepada kaum ‘Ad:

“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu bina-tang-binatang ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS. Asy-Syu'araa', 26: 131-135) !

Namun sebagaimana telah kita catat sebelumnya, Ubar, yang dikenal dengan kota Iram dan tempat-tempat lainnya yang berkemungkinan sebagai daerah hunian kaum ‘Ad, saat ini tertutup pasir seluruhnya. Lalu, mengapa Hud menggunakan ungkapan semacam itu ketika memper-ingatkan kaumnya?
Jawabannya tersembunyi dalam sejarah perubahan iklim. Berbagai catatan sejarah mengungkapkan bahwa daerah-daerah yang sekarang telah menjadi gurun pasir, pada suatu ketika pernah merupakan tanah yang sangat hijau dan produktif. Kurang dari seribu tahun yang lampau, sebagian besar wilayah tersebut dihampari kawasan hijau dan mata-mata air sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, dan penghuninya meman-faatkan karunia itu. Hutan-hutan melunakkan kerasnya iklim wilayah tersebut dan membuatnya dapat dihuni. Padang pasir memang ada, namun tidak seluas seperti saat ini.
Di Arabia Selatan, bukti-bukti penting telah diperoleh di wilayah tempat kaum ‘Ad pernah hidup, yang dapat memberikan titik terang atas persoalan ini. Di sini nampak bahwa penduduk dari daerah ini menggu-nakan sistem pengairan yang sudah sangat maju. Sistem pengairan ini kemungkinan besar hanya dimaksudkan untuk satu tujuan, yaitu perta-nian. Wilayah-wilayah tersebut, yang sekarang tak lagi layak huni, pada suatu masa pernah diolah manusia.
Pencitraan satelit juga telah mengungkapkan suatu sistem saluran-saluran air kuno yang luas dan bendungan-bendungan yang digunakan untuk pengairan di sekitar Ramlat As Sab’atayan yang diperkirakan mampu menghidupi sekitar 200.000 orang di kota-kota yang berdekatan25. Seperti dinyatakan Doe, salah seorang peneliti yang melakukan riset: “Begitu suburnya daerah di sekitar Ma’rib, sehingga seseorang akan menganggap bahwa seluruh daerah di antara Ma’rib dan Hadhramaut dahulunya pernah berada di bawah satu pengelolaan26.
Seorang penulis klasik Yunani, Pliny menggambarkan bahwa wila-yah ini dahulunya sangat subur dengan gunung berhutan lebat berse-limut kabut, sungai dan hutan yang tidak ada putusnya. Dalam berbagai prasasti yang ditemukan di beberapa kuil kuno dekat Shabwah, ibu kota Hadram, dikatakan bahwa binatang-binatang diburu di daerah tersebut dan sebagiannya tersebut untuk dikorbankan. Semua ini mengungkap-kan bahwa daerah tersebut pernah dihampari tanah yang subur, di sam-ping gurun pasir.
Kecepatan gurun pasir itu berkembang, dapat dilihat pada beberapa riset terbaru yang dilakukan oleh Institut Smithsonian di Pakistan. Se-buah kawasan yang dikenal sangat subur di abad pertengahan telah ber-ubah menjadi gurun pasir dengan bukit-bukit pasir setinggi enam meter; gurun tersebut diketahui bertambah rata-rata 6 inci per harinya. Dengan kecepatan seperti ini pasir dapat menelan bangunan tertinggi sekalipun dan menguburnya sehingga bangunan itu bagaikan tidak pernah ada. Dengan demikian penggalian di Timna, Yaman pada tahun 1950 hampir seluruhnya tertimbun lagi oleh pasir. Piramid-piramid di Mesir dulunya juga pernah tertimbun pasir dan baru muncul ke permukaan setelah melalui penggalian yang sangat lama. Singkatnya, jelaslah bahwa daerah yang kini dikenal sebagai gurun pasir mungkin memiliki tampilan yang sangat jauh berbeda di masa lalu.

Bagaimana Kaum ‘Ad Dihancurkan?

Di dalam Al Quran, dituturkan bahwa kaum ‘Ad telah dibinasakan dengan “angin badai yang dahsyat”. Dalam ayat-ayat ini disebutkan bah-wa angin badai yang hebat berlangsung selama tujuh malam delapan hari dan menghancurkan kaum ‘Ad keseluruhannya:

“Kaum ‘Ad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyat-nya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari yang naas terus-menerus.” (QS. Al Qamar, 54: 18-20) !

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati berge-limpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al Haaqqah, 69: 6-7) !

Meskipun telah diperingatkan sebelumnya, mereka tidak mengin-dahkan peringatan dan terus menolak nabi mereka. Mereka berada dalam angan-angan seperti itu, sehingga mereka tidak memahami apa yang sedang terjadi ketika melihat penghancuran tersebut menghampiri mereka, dan tetap dalam keingkarannya :

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al Ahqaaf, 46: 24) !

Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka melihat awan yang akan menghancurkan mereka, namun tidak dapat memahaminya dan berpikir bahwa itu merupakan awan yang membawa hujan. Ini merupakan pe-tunjuk penting bagaimana bencana itu saat mendekati mereka, karena sebuah badai topan yang sedang menyapu sepanjang gurun pasir juga akan tampak seperti sebuah awan hujan dari kejauhan. Mungkin kaum ‘Ad tertipu oleh pemunculan ini dan tidak menyadari bencana tersebut. Doe memberikan sebuah deskripsi tentang badai pasir (yang sepertinya berdasarkan pengalaman pribadinya): “Tanda pertama (dari badai debu atau pasir) adalah mendekatnya tembok udara mengandung pasir yang tingginya mungkin mencapai ribuan kaki, yang diangkat oleh aliran yang meninggi dengan kuat dan diaduk oleh angin yang cukup kuat”27.
“Ubar, Atlantis di padang pasir“ yang dianggap sebagai sisa-sisa peninggalan kaum ‘Ad telah ditemukan kembali dari bawah lapisan pasir yang bermeter-meter tebalnya. Tampaknya angin dahsyat yang berlang-sung selama “tujuh malam dan delapan hari” sebagaimana disebutkan Al Quran, menumpuk berton-ton pasir di atas kota itu dan menimbun pen-duduknya hidup-hidup. Penggalian-penggalian di Ubar menunjukkan kemungkinan yang sama. Majalah Prancis, Ca M'Interesse menyatakan hal yang serupa; “Ubar terkubur di bawah pasir setebal 12 meter karena sebuah badai”28.
Bukti paling penting yang menunjukkan bahwa kaum ‘Ad dikubur oleh sebuah badai pasir adalah kata “ahqaf” yang digunakan dalam Al Quran untuk menandai lokasi dari kaum ‘Ad. Deskripsi yang digunakan dalam ayat 21 surat Al Ahqaaf adalah sebagai berikut:

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Ad yaitu ketika ia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesu-dahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.”

Ahqaaf dalam bahasa Arab berarti “bukit-bukti pasir“ adalah bentuk plural dari kata “hiqf” yang berarti sebuah bukit pasir. Ini menunjukkan bahwa kaum ‘Ad hidup di daerah yang penuh dengan “bukit-bukit pasir” yang memberikan landasan paling masuk akal untuk sebuah fakta bahwa mereka dikubur oleh sebuah badai pasir. Menurut sebuah interpretasi, ahqaaf kehilangan artinya sebagai “bukit-bukit pasir” dan menjadi nama sebuah tempat di selatan Yaman di mana kaum ‘Ad hidup. Ini tidak mengubah fakta bahwa akar kata ini adalah bukit-bukit pasir, namun hanya menunjukkan bahwa kata ini telah menjadi khas untuk daerah ini karena banyaknya bukit pasir.
Penghancuran yang menimpa kaum ‘Ad yang berasal dari badai pasir yang “mencabut orang-orang seakan mereka adalah akar pohon palem yang tercerabut (dari dalam tanah)”, tentunya telah memusnahkan seluruh penduduk dalam waktu yang sangat singkat, mereka yang hing-ga saat itu hidup dengan mengolah lahan-lahan subur dan membangun bendungan-bendungan serta saluran-saluran air irigasi untuk mereka sendiri. Semua ladang olahan yang subur, saluran irigasi, dan bendungan milik masyarakat yang pernah hidup di sana tertutup oleh pasir, dan seluruh kota dan penduduknya terkubur hidup-hidup dalam pasir, setelah mereka dihancurkan, padang pasir berkembang di sana dan menutupinya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Sebagai akibatnya dapat dikatakan bahwa temuan sejarah dan arkeo-logi mengindikasikan bahwa kaum ‘Ad dan kota Iram benar-benar per-nah ada dan dihancurkan seperti disebutkan dalam Al Quran. Berdasar-kan penelitian lebih lanjut, sisa-sisa dari kaum ini telah ditemukan kem-bali dari dalam gurun pasir.
Apa yang seharusnya dilakukan seseorang kala memperhatikan sisa-sisa yang terkubur di dalam pasir adalah mengambil peringatan sebagai-mana ditegaskan dalam Al Quran. Al Quran menyatakan bahwa kaum ‘Ad telah sesat karena kesombongan mereka dan berkata: ”Siapakah kekuatannya yang lebih besar dari kami?.” Di akhir ayat, dikatakan, “Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang mencipta-kan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka?” (QS. Al Fushilaat, 41 : 15). !
Yang seharusnya dilakukan oleh seorang insan adalah mengingat kenyataan yang tidak berubah sepanjang waktu ini dan memahami bahwa Allah Yang Mahabesar dan Mahamulia; seorang insan hanya dapat menjadi sejahtera dengan menyembah-Nya.

Picture Text


Sisa-sisa dari kota Ubar, tempat tinggal kaum 'Ad, ditemukan di suatu tempat dekat tanjung Oman.

Banyak karya seni dan monumen dari peradaban maju pernah dibangun di Ubar sebagaimana disebutkan dalam Al Quran. Saat ini, hanya peningggalan-peninggalan di atas yang tersisa.

Penggalian yang dilakukan di Ubar.

Lokasi kota 'Ad ditemukan dengan foto-foto yang diambil dari pesawat ulang alik. Dalam foto tersebut, tempat jalur-jalur kafilah bertemu ditandai, dan mengarah ke Ubar.

1. Ubar, hanya dapat dilihat dari luar angkasa sebelum dilakukan penggalian.

2. Kota yang berada 12 meter di bawah pasir ditemukan dengan penggalian.

Saat ini, daerah dimana kaum 'Ad pernah hidup penuh dengan gundukan pasir.

Penggalian-penggalian yang dilakukan di Ubar, di mana sisa-sisa sebuah kota ditemukan di bawah lapisan pasir yang ketebalannya bermeter-meter. Di daerah ini, diketahui bahwa bencana badai pasir dapat menyebabkan pasir dalam jumlah yang sangat besar terkumpul dalam waktu sekejap. Hal ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan dengan cara yang tidak terduga-duga.