DINASTI
ROTHSCHILDS: PENOPANG ZIONISME
"Berikan
kepada saya kewenangan mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan
sesudah itu terjadi saya tidak perlu ambil peduli kepada para pembuat hukum di
negara tersebut".
Berawal dalam Keadaan Papa
Siapa sebenarnya
Rothschilds, atau persisnya dinasti Rothschilds, yang banyak disebut-sebut di
dalam pembicaraan buku ini, yang kini disebut sebagai institusi raksasa
keuangan Yahudi yang menguasai keuangan dunia? Untuk mengenal siapa Rothschilds
kita perlu kembali menengok Eropa menjelang akhir abad ke-18.
Eropa pada waktu itu
merupakan sebuah benua yang terdiri dari kumpulan kerajaan baik besar mapun
kecil, ada sejumlah prinsipalitas, semacam kadipaten yang merdeka dan
berdiri-sendiri, sisanya seperti Monaco dan Lichtenstein sekarang ini, namun
ada juga negara kerajaan dalam artian yang sesungguhnya, yang secara
terus-menerus terlibat dalam pertengkaran antara sesama mereka. Sebagian besar
rakyatnya digolongkan sebagai 'kawula', yang tidak memiliki sarna sekali
hak-hak politik. Kalaupun itu ada di tangan mereka, hak-hak yang tidak seberapa
itu dapat ditarik balik oleh para tuan-tuan tanah 'pemilik' mereka
setiap saat. Itulah Eropa pada abad ke-18.
Pada masa seperti inilah
seorang pemuda Yahudi yang sederhana muncul di arena Eropa yang di kemudian
hari akan memberikan dampak yang luar-biasa terhadap jalannya sejarah dunia,
namanya ialah Amschel Mayer Bauer. Pada tahun-tahun selanjutnya berdasarkan
pertimbangan yang matang namanya diubahnya, yang mencerminkan keterkaitan
dengan kekayaan, kekuasaan, kewibawaan, dan pengaruh. Pemuda bemama Mayer
Amschel Bauer ini adalah pendiri dinasti Rothschilds - seorang bankir sejati.
Mayer Amschel Bauer lahir di
Frankfurt , Jerman, pada tahun 1743. Ia putera
dari Moses Amschel Bauer, seorang lintah-darat dan tukang emas yang
berpindah-pindah dari suatu temp at ke tempat yang lain. Setelah letih
berkelana di Eropa Timur, akhimya ia rnemutuskan rnenetap di kota dimana putera pertamanya dilahirkan. Ia
rnembuka sebuah kedai, persisnya kedai untuk pinjam-meminjamkan uang, di
Judenstrasse (kampung Yahudi). Di atas pintu masuk kedai digantungkannya merk
dagangnya, berupa sebuah Tameng Merah (bahasa Jerman - Rothschild).
Pada usia yang masih sangat
rnuda Mayer Amschel Bauer Jr. telah mernperlihatkan kernarnpuan intelektual
yang luar-biasa, dan sang ayah mengajari hampir sepenuh waktunya segala sesuatu
yang diketahuinya tentang bisnis pinjam-meminjamkan uang, serta pengetahuan dan
pengalaman yang diperolehnya dari berbagai sumber. Bauer sepuh sebenamya
mengidamkan anaknya untuk dididik menjadi ulama Yahudi (Rabbi), tetapi ajal
yang menjemputnya membuat idaman itu tidak pemah terwujud.
Beberapa tahun setelah
meninggalnya ayahnya, Amschel Mayer Bauer muda bekerja sebagai kerani di suatu
bank milik keluarga Oppenheimer di Hannover. Keunggulan kemampuannya cepat
terlihat, dan kariemya melesat dengan cepat. Dia diberikan peluang sebagai
mitra-muda dalam kepemilikan bank itu. Setelah ia kembali ke tempat
kelahirannya di Frankfurt , ia membeli kembali bisnis yang telah
dibangun ayahnya sejak tahun 1750. Tanda "Tameng Merah" yang
ditinggalkan ayahnya temyata tetap menggelantung di atas pintu kedai itu. Untuk
menghormati ingatan yang rnembekas kuat akan ayahnya yang tak pemah terlepas
dengan merk dagang "Tameng Merah" itu, Bauer muda kernudian mengubah
sepenuhnya nama keluarganya yang dianggapnya tidak cocok dengan impian besar
bidang yang akan digelutinya dari Bauer (bahasa Jerman - "petani")
menjadi Rothschilds, yang artinya "Tameng Merah". Sejak itu sebuah
dinasti Rothschilds telah dilahirkan.
Basis pemupukan kekayaan
dibangunnya pada dasawarsa 1760-an, ketika Amschel Mayer Rothschild muda rnembangun
kembali koneksi dengan Jenderal von Estorff. Hubungan itu berkembang ketika ia
mengabdikan-diri sebagai pesuruh bagi jenderal tersebut semasa masih sebagai
karyawan di Oppenheimer Bank di Hannover.
Ketika Rothschild mengetahui
jenderal yang kini ditugasi di istana Pangeran Wilhelm von Hanau memiliki hobi
mengumpulkan jenis mata-uang yang langka, tanpa berpikir panjang lagi ia
memanfaatkan situasi itu dengan sepenuh-penuhnya. Dengan jalan
rnernpersernbahkan jenis-jenis mata-uang yang langka dengan harga miring ia
membuka pintu persahabatan dengan sang jenderal dan beragarn punggawa di istana
sang pangeran.
Pada suatu hari ia
diperkenalkan langsung kepada Pangeran Wilhelm pribadi. Sang Pangeran membeli
seonggok medali dan mata-uang langka darinya. Peristiwa ini merupakan transaksi
pertama antara seorang Rothschild dengan seorang kepala sebuah negara. Dalam
tempo yang tidak terlalu lama Rothschild berhasil mengembangkan bisnisnya
dengan para pangeran lainnya.
Tidak lama kemudian Rothschild
mencoba suatu taktik lain untuk menjamin koneksinya dengan berbagai pangeran
setempat untuk mencapai tujuan-tujuannya. Ia menulisi mereka surat dengan menggosok sentimen kebanggaan
para bangsawan seraya memohon akan perlindungan mereka. Surat-surat galibnya
berbunyi sebagai berikut:
"Sungguh merupakan keberuntungan
tersendiri telah dapat mengabdikan diri kepada Paduka Tuanku yang teramat
mulia. Kiranya ketenangan dan kepuasan menyertai Paduka Tuanku yang mulia,
hamba siap untuk mengerahkan segenap tenaga dan kekayaan hamba untuk
dipersembahkan kepada Paduka Tuanku yang mulia bilamana saja Paduka Tuanku
berkenan mengaruniakan titah Paduka Tuanku kepada hamba. Hadiah yang secara
khusus sangat berarti ialah sekiranya Paduka Tuanku yang mulia berkenan mengaruniai
hamba penugasan sebagai salah seorang abdi di dalam istana Paduka Tuanku. Hamba
memberanikan diri menyampaikan hal ini dengan keyakinan hal itu tidak akan
menyusahkan.." dst.nya
Taktiknya membuahkan hasil.
Pada tanggal 21 September
1769 Rothschild berhasil memaku lambang prinsipalitas Hess-Hanau di
depan kedainya sebagai lambang restu dari pangeran yang bersangkutan. Dengan
huruf-huruf dari emas tulisannya berbunyi, "M.A.Rotschild. Dengan
limpahan karunia ditunjuk sebagai abdi istana dari Yang Mulia Pangeran Wilhelm
von Hanau".
Pada tahun 1770 Rothschild
mengawini Gutele Schnaper yang masih berusia tujuh-belas tahun. Mereka
dikarunia sepuluh orang anak, lima
laki-laki dan lima
perempuan. Putera-puteranya diberi nama Amschel III, Salomon, Nathan, Karlmann
(Karl), dan Jacob ( James).
Sejarah mencatat bahwa
Wilhelm von Hanau, "yang lambang kerajaannya terkenal di seantero
Jerman sejak Abad Pertengahan", adalah seorang "pedagang daging
manusia". Untuk suatu harga yang pantas, sang pangeran melalui ikatan
darah yang kebetulan terkait erat dengan berbagai keluarga kerajaan di Eropa,
dapat menyiapkan sepasukan tentara sewaan kepada kerajaan manapun. Langganan
baiknya adalah kerajaan Inggeris, yang selalu kekurangan tentara, misalnya saja
untuk keperluan menjinakkan koloni-koloninya di Amerika Utara.
Usaha sang pangeran memang sangat berhasil dengan bisnis
tentara-sewaan itu. Tatkala ia mangkat ia meninggalkan warisan dalam jumlah
yang tak ada taranya di Eropa pada masa itu, yaitu $ 200.000.000,-. Penulis
biografi Rothschild, Frederic Morton, menggambarkan Pangeran Wilhelm von Hanau
sebagai " Lintah-darat Eropah yang paling berdarah dingin".1
Rothschild di bidang ini bertindak sebagai dealer "ternak manusia"
itu. Ia niscaya bekerja dengan sangat rajin dalam posisi itu, karena ketika
Pangeran Wilhelm terpaksa harus melarikan diri ke Denmark, ia menghibahkan
kepada Rothschild uang sejumlah tidak kurang dari 600.000 pound (senilai dengan
$ 3.000.000,-) dalam bentuk deposito.
Fakta-fakta
Tentang
versi lain yang terjadi dapat dibaca di dalam 'Jewish Encyclopaedia' ,
jilid 10, h.494, yang menulis, "Menurut ceritera dari mulut ke mulut,
uang ini disembunyikan dalam guci-guci anggur, dan berhasil lolos dari
penggerebekan tentara Napoleon ketika mereka menduduki Frankfurt, dan guci-guci
itu ditemukan utuh pada tahun 1814, ketika para elektor (penguasa kota)
menduduki elektorat itu kembali. Fakta-fakta itu agak kurang romantik, tetapi
memang begitulah adanya."
Harap
diperhatikan secara seksama kalimat terakhir di atas. Kalimat itu memuat makna
yang penuh arti. Disini masyarakat Yahudi sendiri menjelaskan bagaimana
Rothschild menyimpan uang yang $3.000.000.,- itu.
Jadi,
apa yang sebenamya terjadi agaknya Rothschild telah melipat uang Pangeran
Wilhelm. Bahkan sebelum uang itu sampai ke tangan Rothschild, uang itu tidak
bersih (tidak 'kosher', atau halal). Uang itu berasal dari kerajaan
Inggris yang dibayarkan kepada Pangeran Wilhelm, tetapi belum dibayarkan
Rothschild kepada pasukan yang berhak untuk itu.
Dengan
uang yang ditilep itu sebagai kapital dasar yang kokoh, Amschel Mayer
Rothschild memutuskan untuk membuka usaha sendiri sebagai bankir intemasional
yang pertama.
Lionel
Nathan de Rothschild, 1808-1879, anak pertama dari Nathan Mayer Rothschild.
Menikah dengan sepupunya, Charlotte, pada tanggal 15 Juni 1836. Beberapa hari
kemudian ayahnya meninggal sehingga ia mewarisi NM Rothschild & Sons. Pada
tahun 1875 membantu Kerajaan Inggris membiayai Terusan Suez. Di tahun 1858 menajdi
orang Yahudi pertama yang memperoleh kursi di parlemen Inggris dan mendapat
gelar “Lord“
Beberapa
tahun sebelumnya Amschel Mayer Rothschild telah mengirimkan puteranya yang
ketiga, Nathan, ke Inggris untuk mengelola bisnis keluarga di negara tersebut.
Setelah tinggal sebentar di Manchester, dimana ia bekerja sebagai pedagang,
Nathan, atas perintah ayahnya, pindah ke London dan mendirikan sebuah kantor
yang berperan sebagai bank dagang. Agar kegiatan bisa berjalan, Rothschild
memberikan kepada Nathan dana tiga juga dollar yang berasal dari hasil penilepan
uang milik Pangeran Wilhelm Hess tadi.
'Jewish
Encyclopaedia' 1905 menceriterakan Nathan menginvestasikan uang curian itu
ke dalam "batangan emas dari East India Company, karena menyadari akan
kemungkinan dibutuhkannya emas itu bagi kampanye Wellington di semenanjung
(Iberia)". Dengan uang curian itu Nathan menghasilkan "tak
kurang dari empat jenis keuntungan; (1) laba dari penjualan kertas-kertas
berharga Wellington (yang dibelinya hanya seharga 50 sen untuk setiap kertas
bernilai $1,-); (2) laba dari penjualan emas kepada Wellington; (3) laba dari
pembelian emas itu kembali; dan (4) laba dari biaya pengiriman emas itu ke
Portugal. Inilah awal dari keuntungan besar bagi dinasti tersebut"2.
'Jewish Encyclopaedia' mengakui bahwa keuntungan yang berhasil dihimpun
oleh keluarga Rothschilds selama sekian tahun itu diperoleh dengan cara-cara
tipu-menipu yang "lugas".
Jacob
(James) Mayer de Rothschild, 1792-1868, menikah dengan keponakannya, betty,
anak dari Salomon kakaknya. Pada saat perang Waterloo, Jacob tinggal di Paris
dan mendirikan de Rothschild Freres yang tujuannya untuk meminjamkan uang ke
pemerintahan-pemerintahan Eropa
Melalui
akumulasi kekayaan yang luar-biasa dengan cara yang lihay, keluarga itu
mendirikan cabang-cabang dinasti Rothschilds di Berlin, Wina, Paris, dan
Napoli. Amschel Mayer Rothschild menempatkan seorang puteranya pada setiap
tempat cabang usahanya. Anak sulungnya Amschel III ditempatkan dengan
tanggung-jawab mengelola kantor cabang di Berlin; anak-kedua Salomon memegang
kantor cabang Wina; Jacob (James) berangkat ke Paris, sedang Karlmann (Karl)
membuka bank Rothschilds di Napoli. Kantor pusat dinasti Rothschilds, pada
waktu itu hingga dengan sekarang, tetap berkedudukan di London.
Wasiat
dari Amschel Mayer Rothschild
Ketika
Amschel Mayer Rothschild meninggal dunia pada tanggal 19 September 1812,
pendiri dinasti Rothschild itu meninggalkan sebuah wasiat yang ditulisnya hanya
beberapa hari saja sebelum meninggalnya. Dalam wasiat itu ia menuliskan hukum
khusus tentang bagaimana "dinasti" yang didirikannya itu harus
menjalankan kegiatannya di masa depan. Hukum itu adalah sbb :
- Semua posisi
kunci yang ada pada dinasti Rothschilds hanya boleh diduduki oleh anggota
keluarga, dan bukan oleh karyawan bayaran, dan hanya keturunan laki-laki
dari keluarga yang diperkenankan dalam bisnis. Putera sulung dari putera
sulung harus menjadi kepala keluarga, terkecuali bilamana mayoritas
keluarga berpendapat lain. Karena alasan pengecualian inilah maka Nathan,
yang memang sangat cerdas, ditunjuk sebagai kepala dinasti Rothschilds
pada tahun 1812 itu.
- Anggota keluarga
hanya boleh kawin dengan saudara sepupu-sekali (satu kakek) atau paling
jauh sepupu-dua kali (satu datuk). Dengan cara itu kekayaan keluarga dapat
terpelihara agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Aturan ini dengan taat
diikuti pada masa awalnya, tetapi kemudian, tatkala keluarga bankir Yahudi
kaya lainnya mulai bermunculan ke atas pentas dunia keuangan, aturan itu
dikendurkan untuk memungkinkan beberapa dari keturunan Rothschilds
mengawini anggota-anggota terpilih dari elit yang baru muncul tadi.
- Amschel melarang
keturunannya "dengan tegas, dalam keadaan apapun, membuat
inventori publik oleh pengadilan, atau yang sejenisnya, terhadap kekayaan
saya ... Saya juga melarang tindakan
hukum apa pun dan publikasi apapun berkenaan dengan nilai kekayaan saya
... Siapa saja yang tidak mengindahkan ketentuan ini dan mengambil
tindakan apapun yang bertentangan dengannya harus dengan segera dipandang
menentang wasiat ini dan harus memikul segala konsekwensi karena
tindakannya itu. "
- Amschel Mayer
Rothschild memerintahkan suatu kemitraan yang langgeng dengan menetapkan
keturunan perempuan dari keluarga itu, termasuk para suami, dan anak-anak
mereka, harus diberikan bagian dividen yang pantas dari hasil usaha
keluarga, dan harus disesuaikan pula dengan peran dan kemampuan pihak
laki-laki yang terikat karena perkawinan dengan keluarga Rothschilds.
Mereka tidak diperbolehkan turut-serta mengambil bagian dalam manajemen
bisnis usaha keluarga. Barangsiapa yang melanggar ketentuan ini akan
kehilangan haknya dalam usaha keluarga.(Ketentuan terakhir ini secara
khusus dirancang untuk menutup mulut orang yang mungkin berkehendak untuk
melepaskan diri dari lingkaran keluarga. Amschel Mayer Rothschild jelas
merasa ada banyak hal di bawah "karpet" keluarga yang tidak
boleh diketahui).
Kekuatan dari dinasti
Rothschilds terletak pada berbagai faktor penting, antara lain :
- Kerahasiaan
terhadap kontrak dan transaksi oleh bisnis keluarga harus dilakukan secara
sangat ketat.
- Kecerdikan dan
instink memperkirakan atau memprediksi apa yang bakal terjadi di masa
depan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Segenap keluarga harus
didorong untuk mengakumulasikan kekayaan dan kekuasaan.
- Harus ada
semangat mempertahankan, semacam "kenekadan", dalam semua usaha
bisnis keluarga.
Penulis biografi tentang
keluarga Rothschilds, Frederic Morton, menceriterakan bahwa Amschel Mayer
Rothschild dan kelima puteranya adalah para "peramal" keuangan, dan
"kalkulator pembunuh" yang bekerja berdasarkan "dorongan
iblis" untuk merebut sukses dalam tiap kesepakatan bisnis rahasia mereka.
Edmond de
Rothschild, 1845-1934, anak bungsu dari Jacob de Rothschild. Mewarisi perusahaan
kereta api Est Railway yang bermarkas di Paris. Mengunjungi Palestina ri tahun
1895 dan sejak itu menjadi pendukung utama gerakan Zionisme termasuk mendanai
pembuatan koloni-koloni Yahudi di Palestina
Pengaruh
Talmud
Dari
nara-sumber yang berwenang di atas masyarakat memperoleh informasi, "pada
setiap Sabtu malam, tatkala kebaktian telah selesai di sinagoga, Amschel
mengundang rabbi ke rumah mereka. Sambil duduk membungkuk di kursi hijau,
mencicipi anggur, mereka berbincang-bincang sampai larut malam. Bahkan pada
hari kerja pun ... Amschel ... mendaras Talmud ... dan seluruh anggota keluarga
harus duduk dan mendengarkan dengan tertib.3
Tentang
keluarga Rothschilds, dapat disimpulkan mereka adalah "keluarga yang
mencari mangsa bersama, harus tetap kumpul bersama". Dan mereka memang
memburu mangsa! Morton menjelaskan, sulit bagi orang biasa "untuk
memahami keluarga Rothschilds, apalagi untuk memahami alasan mengapa mereka
sedemikian bernafsu untuk menaklukkan orang lain tanpa puas-puasnya ".
Kesemua puteranya dibuai dengan semangat kecerdikan dan penaklukan yang sama.
Lionel
Walter Rothschild, 1868-1937, peraih gelar “Lord” kedua dalam keluarga besar
Rothschild, merupakan anak pertama dari Lionel Nathan de Rothschild, pemegang
gelar “Lord” pertama. Dialah Lord Rothschild yang dimaksud oleh Balfour dalam
suratnya di tahun 1917 mengenai pendirian negara Yahudi
Keluarga
Rothschilds tidak mempunyai sahabat atau sekutu yang sejati. Pergaulan mereka
tidak lebih daripada sekedar berkenalan yang kelak dimanfaatkan untuk mencapai
kepentingan dinasti Rothschilds, dan melemparkan mereka ke dalam tempat sampah
sejarah begitu mereka telah memenuhi tujuan atau telah tidak lagi memberikan
manfaat.
Kebenaran
tentang pernyataan ini dipamerkan di salah satu alinea dari buku Frederic
Morton. Ia menggambarkan bagaimana pada tahun 1806, Napoleon menyatakan bahwa
"telah menjadi tujuannya untuk mengikis habis dinasti Hess-Cassel dari
kekuasaan dan menghapusnya dari daftar penguasa".
"Jadi
orang paling kuat di Eropa telah mengeluarkan dekrit penghapusan batu-karang di
atas mana usaha keluarga Rothschilds yang baru didirikan berada. Meski
demikian, kesibukan tidak berkurang di kedai "Tameng Merah" ...
Rothschilds masih tetap duduk, kokoh, tak tergoyahkan, surat-surat tetap
bertumpuk di atas meja. Mereka tidak peduli apakah perang atau damai, demikian
juga slogan atau manifesto, atau perintah harian, tidak juga ancaman kematian
atau kejayaan. Mereka tidak mempedulikan semua hingar-bingar dunia. Mereka
memandangnya hanya sebagai sekedar batu loncatan. Pangeran Wilhelm satu
diantaranya. Napoleon akan menjadi korban berikutnya".4
Aneh?
Tidak juga! Dinasti Rothschilds tengah mebantu diktator Perancis itu, dan
sebagai hasilnya, ia mendapatkan akses bebas ke pasar Perancis pada setiap
saat. Beberapa tahun kemudian, ketika Inggris dan Perancis yang bermusuhan
saling memblokade pantai lawan masing-masing, satu-satunya armada dagang yang
diizinkan untuk menerobos blokade itu, hanyalah armada Rothschilds. Keluarga
ini membiayai kedua pihak yang bermusuhan itu.
"Efisiensi
yang menggerakkan putera-puitera Amschel memungkinkan "cuci gudang
ekonomi" yang luar biasa: penghapusan pembukuan keuangan yang mati;
merenovasi struktur kredit lama dan restrukturisasi kredit; pembentukan cara
penyaluran dana segar melalui - tidak termasuk lima bank Rothschilds yang
berbeda-beda di lima negara - 'clearing house' baru; menemukan metoda pengganti
terhadap cara pengiriman batangan emas yang tidak hemat melalui suatu sistem debit
dan kredit dengan lingkup sejagat. Salah satu sumbangan mereka adalah teknik
baru dari Nathan yang mengapungkan pinjaman internasional. Ia tidak terlalu
peduli dengan penerimaan dividen dalam berbagai rupa mata-uang yang asing dan
merepotkan."
"Kini
Nathan menciptakan sumber investasi paling kuat pada abad ke sembilan-belas
dengan cara menciptakan bond asing dalam pound sterling"5.
Peran
Palagan Waterloo (18 Juni 1815) terhadap Bisnis Rothschilds
Begitu
kekayaan dan kekuasaan keluarga Rothschilds berkembang, baik dalam jumlah
maupun pengaruhnya, begitu pula jaringan intelijen mereka. Mereka menyebarkan
"agen-agen" mereka yang secara stratejik ditempatkan pada semua
ibukota serta bandar pusat perdagangan Eropa. Tugas agen-agen ini menghimpun dan
mengembangkan berbagai jenis intelijen. Sebagaimana semangat kerja keluarga
Rothschilds, intelijen mereka didasarkan dan dikendalikan berdasarkan paduan
kerja-keras dan kecerdikan tinggi.
Sistem
spionase yang unik ini bermula ketika "anak-anak" mulai saling
mengirimkan pesan kepada satu sarna lain melalui suatu jaringan kurir. Tidak
lama sistem itu berkembang menjadi lebih canggih, lebih efektif, dan
berkonsekwensijauh. Sistem itu merupakan suatu jaringan spionase yang 'par
excellence'. Kecepatan dan efektivitasnya yang menakjubkan memberikan
keluarga Rothschilds gambaran yang lebih jernih dalam semua kesepakatan bisnis
yang mereka buat pada tingkatan internasional.
"Kereta-kereta
Rothschilds meluncur di jalan-jalan darat; perahu-perahu layar Rothschilds
bolak-balik di Selat Channel; agen-agen Rothschilds bergerak cepat dalam
bayangan di jalan-jalan. Mereka
membawa uang tunai, surat-surat berharga, laporan, dan berita. Di atas
segala-galanya - ialah berita - berita eksklusif mutakhir yang diproses dengan
kecepatan tinggi di pasar saham dan bursa komoditas. Dan tidak ada berita yang
lebih berharga daripada hasil akhir Waterloo ..."6
Pada
palagan Waterloo yang berlangsung pada tahun 1815 antara Perancis melawan
kerajaan-kerajaan Eropa di bawah pimpinan Inggris, hasil palagan ini akan
menentukan masa depan benua Eropa. Sekiranya Grande Armee de France Napoleon
tampil sebagai pemenang, maka Perancis akan menjadi yang dipertuan atas daratan
benua Eropa yang dikuasainya tanpa dapat disangkal oleh siapa pun. Tetapi,
sekiranya dapat Napoleon dihancurkan dan bertekuk lutut kepada Inggris, maka
Inggris akan penguasa keuangan di Eropa, dan akan menduduki posisi kuat untuk
memperluas lingkup pengaruh imperiumnya ke seluruh jagad.
Penulis
sejarah John Reeves, seorang pengagum keluarga Rothschilds, menulis dalam
bukunya 'The Rothschilds, Financial Rulers of the Nations', pada tahun
1887, di halaman 167, bahwa "salah satu dari suksesnya (Nathan) adalah
kerahasiaan yang menyelimuti dirinya, serta kebijakannya yang menyakitkan, yang
senantiasa berhasil mendesepsi mereka yang mencoba mengamatinya terlampau
rajin".
Ada
keuntungan - dan ada pula kerugian - yang diperoleh sebagai akibat Waterloo.
Pasar bursa di London benar-benar sedang meriang, ketika para pialang bursa
menanti-nantikan berita akhir pertarungan kedua raksasa itu. Bila Inggris
sampai kalah, ekonomi Inggeris akan terpuruk ke jurang yang tak terbayangkan
dalamnya. Bila Inggris berhasil menang, ekonomi sebaliknya akan meloncat ke
puncak.
Begitu
kedua tentara saling mendekat untuk memasuki palagan maut, Nathan Rothschild
memerintahkan agen-agennya yang berada di kedua belah front mengumpulkan
informasi yang seakurat mungkin begitu pertempuran dimulai. Agen-agen tambahan
dari Rothschilds bersiaga untuk menyampaikan laporan intelijen kepada pos
komando Rothschilds yang digelar di tempat yang cukup dekat dan stratejik.
Pada
petang-hari tanggal 15 Juni 1815, seorang wakil Rothschilds tampak melompat ke
atas sebuah perahu yang dicharter khusus, dan berlayar melalui Selat Channel
menuju pantai Dover, di Inggeris. Ia membawa sebuah laporan sangat rahasia dari
dinas rahasia Rothschilds berkenaan dengan kemajuan palagan yang menentukan
itu. Data intelijen itu akan membuktikan bagi Nathan sebagai bahan
informasi yang tak dapat diabaikan dalam rangka mengambil
keputusan-keputusan yang vital.
Agen
khusus itu dijemput di Folkstone pada subuh keesokan harinya oleh Nathan
Rothschild pribadi. Setelah secara cepat membaca pokok-pokok penting dari isi
laporan itu Nathan Rothschild kembali bergegas menuju London dan langsung ke
pasar bursa.
Kerahasiaan
dalam berkorespondensi antar-saudara Rothschild di saat itu dilaksanakan dengan
cara berpikir dalam bahasa Jerman dan menulisnya dalam bahasa In\brani,
ditambah dengan kode-kode dan istilah-istilah untuk klien-klien dan
pejabat-pejabat negara
Coup de
Coup
Nathan
Rothschild tiba di pasar bursa di tengah-tengah suasana spekulasi yang
simpang-siur mengenai hasil-akhir dari palagan yang tengah berlangsung di
Waterloo. Nathan berdiri di tempat kebiasaannya, di samping "Pilar
Rothschilds". Tanpa memperlihatkan emosi di wajahnya, tanpa ada perubahan
apa pun pada air mukanya, muka-kaku, mata agak memejam, bos dari dinasti
Rothschilds itu memberikan sebuah isyarat yang telah ditentukan kepada
agen-agennya yang berdiri di dekatnya.
Agen-agen
Rothschilds segera mulai menumpahkan surat-surat berharga mereka ke pasar.
Begitu kertas-kertas berharga bernilai ratusan ribu dolar dilemparkan ke lantai
pasar nilainya dengan cepat merosot drastik.
Nathan
tetap menyandar pada "pilar-"nya, tetap tanpa emosi, tanpa ekspresi.
Ia tetap menjual, menjual, dan terus menjual. Nilai kertas-kertas berharga
bertumbangan. Bisik-bisik mulai menyusup di tengah-tengah pasar bursa London.
"Rothschilds sudah mengetahui ! Rothschilds sudah mengetahui !
"Wellington kalah di Waterloo !"
Penjualan
itu berubah menjadi panik ketika semua orang mulai turut menumpahkan
kertas-kertas mereka yang "tak ada harganya", demikian juga uang
kertas, emas atau perak, dengan harapan paling tidak berusaha untuk
mempertahankan kekayaan yang masih tersisa di tangan. Kertas-kertas berharga
terus menukik tajam ke bawah. Setelah beberapa jam perdagangan yang menyakitkan
itu terjadi, kertas-kertas berharga itu berserakan di lantai bursa bagai
onggokan sampah. Harganya tidak lebih dari lima sen untuk setiap obligasi atau
sekuritas yang senilai dengan harga satu dolar.
Nathan
Rothschild, tetap tanpa emosi seperti biasanya, masih menyandar pada
"pilar"-nya. Ia kini memberikan isyarat secara halus. Tetapi isyarat
itu kini sudah berbeda. Isyarat itu perbedaannya begitu halus, sehingga hanya
agen-agen Rothschilds yang telah sangat terlatih yang dapat memahami adanya
perubahan. Sesuai petunjuk bos mereka, belasan agen Rothschilds melesat ke
meja-meja yang ada di sekeliling lantai pasar bursa dan membeli setiap lembar
kertas berharga yang teronggok hanya dengan senilai sebuah "siulan".
Tidak
berapa lama kemudian berita "resmi" tiba di ibukota Inggris. Inggris
kini telah menjadi yang dipertuan di medan Eropa. Hanya dalam beberapa detik
nilai kertas-kertas berharga tadi meroket melampaui harga aselinya yang semula.
Begitu makna dari kemenangan Inggris itu mulai merasuk ke dalam kesadaran
publik, nilai kertas-kertas berharga itu meningkat semakin tajam. Napoleon
telah menerima nasib "Waterloo"-nya. Nathan Rothschild berhasil
memegang kontrol atas ekonomi Inggeris. Hanya dalam tempo semalam, kekayaannya
yang sudah luar bias a itu berlipat dua-puluh kali daripada nilai sebelumnya.
Pembersihan
di Perancis
Menyusul
kekalahan telaknya di Waterloo, Perancis berupaya untuk membenahi ekonominya.
Pada tahun 1817 mereka menegosiasikan sejumlah besar pinjaman melalui sebuah
bank Perancis yang cukup bergengsi milik keluarga Ouvrad, dan dari
bankir Inggeris terkenal Baring Brothers of London. Rothschilds
dibiarkan tidak termasuk.
Tahun
berikutnya pemerintah Perancis membutuhkan lagi pinjaman baru. Begitu
surat-surat berharga yang dikeluarkan dengan bantuan Ouvrad dan Baring
Brothers pada tahun 1817 naik nilainya di pasar bursa Paris serta di
tempat-tempat pusat finasial di Eropa, maka nampak dengan jelas pemerintah
Perancis akan memelihara jasa-jasa dari kedua bank terkemuka ini. Rothschilds
bersaudara mencoba dengan segala akal yang ada pada mereka untuk membujuk
pemerintah Perancis menyerahkan bisnis itu kepada mereka. Namun usaha mereka
gagal.
Para
bangsawan Perancis yang terbiasa membanggakan keanggunan dan keunggulan darah
mereka, memandang keluarga Rothschilds tak lebih daripada petani-petani
(nama-lama keluarga Rothschilds sebelum diubah adalah 'Bauer' - petani) yang
tidak kenaI basa-basi, para pemula yang sebaiknya tetap di tempat mereka saja.
Kenyataan bahwa keluarga Rothschilds menguasai sumber-sumber keuangan yang
luas, tinggal di gedung-gedung yang mewah, dan mengenakan pakaian dari bahan
yang paling anggun dan mahal, tidak membuat para bangsawan Perancis yang sangat
sadar dengan kelas mereka itu bergeming. Keluarga Rothschilds dipandang sebagai
lapisan yang tidak mengenal sopan-santun. Mengingat akan catatan sejarah,
pandangan mereka tentang generasi pertama Rothschilds tidaklah terlalu jauh
dari persepsi tadi. Salah satu dari persenjataan utama dalam gudang arsenal
Rothschilds yang terlewatkan dan diabaikan oleh Perancis adalah - kecerdikan
mereka dalam menggunakan dan memanipulasikan uang.
Pada
tanggal 5 Nopember 1818 sesuatu yang sarna sekali tak pemah terduga terjadi.
Setelah setahun mengalami stabilitas, nilai obligasi pemerintah Perancis mulai
merosot. Tiap hari kemerosotan nilainya makin kentara. Dalam tempo yang singkat
sekuritas pemerintah yang lain menderita nasib yang sarna pula. Suasana di
istana Louis XVIII menjadi tegang. Para bangsawan dengan wajah kusam mulai
mengkhawatiri nasib negaranya. Mereka mengharapkan yang terbaik, tapi
mengkhawatirkan juga yang terburuk yang mungkin datang. Orang yang tidak
terlalu peduli dengan keadaan buruk itu hanyalah James dan Karl Rothschild. Mereka tersenyum, tanpa sepatah kata pun keluar dari
mulut mereka.
Pelan-pelan
suatu kecurigaan mulai muncul dalam benak beberapa pengamat. Jangan-jangan
kedua Rothschilds bersaudara itu adalah penyebab dari nestapa negeri mereka.
Jangan-jangan merekalah yang secara rahasia memanipulasi pasar saham dan
merekayasa kepanikan yang terjadi.
Selama
bulan Oktober 1818 para agen Rothschilds dengan menggunakan dana cadangan
bosnya yang nyaris tanpa batas membeli sejumlah besar surat-surat berharga
pemerintah Perancis melalui saingan mereka Ouvrad dan Baring Brothers.
Tindakan ini menyebabkan surat-surat berharga itu meningkat nilainya. Kemudian
pada tanggal 5 Nopember 1818 mereka mulai melakukan dumping terhadap
kertas-kertas berharga itu di pasar terbuka di pusat-pusat komersial utama
Eropa, dan menggiring pasar ke dalam kepanikan.
Sejak
itu istana Aix berubah. Keluarga Rothschilds akhirnya memperoleh undangan untuk
menghadap raja. Mereka kini menjadi pusat perhatian. Busana yang mereka kenakan
adalah haute couture, fashion tingkat tinggi. Sejak itu "uang
mereka menjadi idaman para peminjam terbaik". Keluarga Rothschilds
berhasil memegang kontrol atas ekonomi-keuangan Perancis dan permainan itu
namanya "kontrol keuangan" !
Benjamin
Disraeli, perdana menteri Inggeris pada waktu itu, menulis sebuah novel
berjudul 'Coningsby'. The Jewish Encyclopaedia, jilid 10, ha1.501-502,
menggambarkan buku itu sebagai "gambaran ideal tentang Imperium
Rothschilds". Disraeli menggambarkan Nathan Rothschild (dalam hubungan
dengan keempat saudaranya) sebagai "pangeran dan pemimpin pasar uang
dunia, dan juga, pangeran dan pemimpin dalam bidang apa saja. Secara harfiah ia
bahkan memegang kendali atas pendapatan Italia Selatan, sementara para raja dan
menteri dari seluruh kerajaan (Eropa) memohon nasihatnya dan menjalankannya
sesuai dengan saran-sarannya".
Jangan
Terdengar - Jangan Terlihat
Kup
keuangan yang dilakukan oleh keluarga Rothschilds di Inggeris pada tahun 1815,
dan di Perancis tiga tahun kemudian, hanyalah dua contoh dari sekian banyak
yang mereka lakukan di seluruh dunia bertahun-tahun. Meski demikian ada
perubahan dalam taktik yang dipakai untuk merampok uang publik yang mereka cari
dengan susah payah. Dari cara terbuka dalam memanfaatkan dan mengeksploitasi
bangsa-bangsa, keluarga Rothschilds secara berangsur-angsur surut ke dalam
keremangan, dan kini beroperasi melalui dan di belakang berbagai jenis tirai.
Pendekatan "modern" mereka, sebagaimana dijelaskan oleh
penulis biografi Frederic Morton, berbunyi "keluarga Rothschilds gemar
dengan kegemerlapan. Namun dengan rasa pedih keluarga Rothschild yang memendam
nafsu ambisius yang tinggi itu terpaksa menikmati kegemerlapan itu hanya di
dalam kamera, untuk dan di antara keluarga mereka saja".
"Kecenderungan
untuk menyembunyikan diri itu tumbuh baru-baru ini saja. Pendiri dinasti itu
telah melakukannya pada waktu yang silam; tetapi putera-puteranya ketika
menyerbu benteng-benteng pusat kekuasaan Eropa, membawa serta segala macam
senjata termasuk publisitas yang paling kasar sekalipun. Kini keluarga itu itu
menyelimuti kehadiran mereka dengan kesenyapan, tak-terdengar dan tak-terlihat.
Sebagai hasilnya, sebagian orang menyangka sekarang ini tak banyak yang tersisa
dari apa yang pernah menjadi legenda di masa silam. Dan keluarga Rothschilds
sangat puas membiarkan legenda itu tetap hidup di kalangan masyarakat luas. Hal
ini ditempuh untuk menimbulkan bahwa mereka beroperasi dalam kerangka
'demokrasi', dengan tujuan untuk menipu, dan mengalihkan perhatian dari
kenyataan bahwa tujuan mereka yang sebenarnya adalah untuk menyingkirkan semua
jenis kompetisi dan menciptakan monopoli dunia.".7
Daftar Pustaka
1. .Frederic Morton, 'The Rothschilds', Fawcett Crest , New York ,
1961, h.40.
2. Ibid. h.494.
3. Ibid. h.31.
4. Ibid. h. 38, 39.
5. Ibid. h. 96.
6. Ibid. h.94.
7. Ibid. h.18, 19.
Sekilas Tentang Penulis
Mantan Kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) era
Presiden Habibie, Letjen (Purn) Zaini Azhar Maulani, meninggal dunia Selasa 5
April 2005 pukul 16.20, di RSPAD Gatot Soebroto. Pria kelahiran Marabahan,
Baritokuala, Kalimantan Selatan, 6 Januari 1939, itu meninggalkan seorang
istri, Retno Inten, dan enam anak.
Maulani meninggal setelah dirawat di ruang intensive care unit
akibat penyakit kanker paru-paru dan diabetes. Dia sudah dirawat di RS itu sejak
Januari 2005 dan sudah tiga kali dirawat di ruang ICU. Jenazah disemayamkan di
rumah duka RSPAD dan dimakamkan 6 April 2005 di Taman Makam Pahlawan
Kalibata.
Alumni Akademi Militer Nasional (1961) ini menjabat Kepala Bakin 16 September 1998 hingga20 November
1999 . Dia juga pernah menjabat sebagai Asisten Presiden Bidang
Politik Keamanan pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.
Alumni Akademi Militer Nasional (1961) ini menjabat Kepala Bakin 16 September 1998 hingga
Karier Maulani lebih
banyak di dunia militer. Dia mengawali karier sebagai Komandan Peleton, Kompi
I, Yon 145/Sriwijaya, kemudian menjadi Atase Militer RI di London, dan Pangdam
VI/Tanjungpura (1988).
Setelah itu, Maulani
dipercaya menjabat Sekjen Departemen Transmigrasi (1991), dan menjadi Kabakin
menggantikan Letjen Muthojib melalui Keppres No 80/1998 semasa pemerintahan
Presiden BJ Habibie.
Dalam dunia organisasi massa (ormas), dia juga pernah menjabat ketua umum Keluarga Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII). Dia memang tampak sangat dekat dengan para tokoh Islam di Indonesia. Terlihat dari aktivitasnya yang sering hadir di sejumlah acara yang digelar ormas-ormas Islam
Dalam dunia organisasi massa (ormas), dia juga pernah menjabat ketua umum Keluarga Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII). Dia memang tampak sangat dekat dengan para tokoh Islam di Indonesia. Terlihat dari aktivitasnya yang sering hadir di sejumlah acara yang digelar ormas-ormas Islam
Buku ini adalah
refleksi dan wujud kegelisahan intelektual serta keprihatinan penulis sebagai
umat manusia atas perilaku dan provokasi dari gerakan Zionisme yang menggunakan
aneka macam modus menghalalkan berbagai cara yang melanggar batas kemanusiaan
dan ajaran suci agama untuk cita-cita destruktif dan anarkis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar