Sabtu, 22 Agustus 2015

Asal-usul perayaan Natal

Perayaan Natal



Berapa banyak diantara kita yang sangat meyakini bahwa tanggal 25 Desember adalah benar-benar kelahiran Yesus, padahal tanggal tersebut tidak ada kaitannya sekali dengan kelahiran Yesus, bahkan terbukti perayaan seperti ini merupakan tradisi paganisme jauh sebelum datangnya agama Kristen itu sendiri.
Beberapa kalangan sejarawan menegaskan kebenaran hal tersebut, walaupun ada beberpa versi asal-usul, tetapi kesimpulan akhirnya menetapkan tanggal 25 Desember bukan orisinal ajaran Yesus dan tanggal serta bulan yang dirayakan pun tidak merujuk pada waktu yang sebenarnya. Sayangnya, betapapun hal tersebut dinyatakan salah dan bahkan merupakan bentuk sinkretisasi yang bersifat bid’ah (heresy), mereka tetap menjadikannya sebagai bagian dari ritual dan puncak ritual agama, tanpa sedikitpun ada perasaan bahwa pada saat menghadapi 25 Desember sebenarnya mereka sedang melangsungkan kebudayaan Paganisme yang justru ditentang keras oleh ajaran murni Nasrani (natal yang artinya kelahiran, ulang tahun, atau peringatan atas peristiwa yang dikaitkan dengan kelahiran seseorang atau lembaga, pada awalnya disebut dengan istilah dies natalis).

Asal-usul perayaan Natal

Sebagaimana kita ketahui, selama empat abad, imperium Romawi yang menganut agama Paganisme Piliteis, menguasai Yerussalem dan menancapkan berbagai kebiasaan mereka di kalangan Yahudi dan bangsa Semitis pada umumnya. Legenda dan dongeng tentang Dewa Matahari (Yupiter), Dewa Laut (Saturnus),  Dewa Bumi (Maia), Dewa Fortuna serta penghulu dari segala dewa yaitu Dewa Zeus, ditransformasikan dalam alam pikiran masyarakat dengan segala perubahannya. Kebiasaan pagan yang menyembah matahari atau merayakan kelahiran Dewa Matahari setiap tanggal 25 Desember dianut dengan sangat kuatnya oleh kepercayaan Bramulia sebagai kelanjutan dari peringatan Saturnalian yang jatuh sekitar tangga 17 s/d 24 Desember.
Hari Tuhan (Deo = Tuhan; Minggus = hari) dirayakan sedemikian rupa yang pada hakikatnya merupakan pelestarian agama Pagan yang sesat, yang jauh sebelumnya telah dilaksanakan sejak jaman Babilonia yang diperintahkan oleh Raja Nimrod, pendiri kota Babilonia dengan ibukotanya Ninive (dalam bahasa ibrani Nimrod berasal dari kata marad yang berarti ingkar, membangkang atau sesat, bandingkan dengan kata murtad dalam bahasa arab).
Nimrod merupakan figure yang sangat otoriter dan ambisius, bentuk tirani (taghut) dan syaithaniyah yang teramat jahat. Bahkan dalam sebuah sejarah disebutkan Nimrod melakukan hubungan seksual secara incest dengan ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal Semiramis membuat sebuah mistik untuk mengikat kepercayaan rakyatnya dengan membuat pohon Evergreen sebagai lambing penghormatan kepada Raja Nimrod. Setiap tenggal 25 Desember pada ranting pohon tersebut dibuatkan berbagai sesajian serta hiasan-hiasan yang mewah. Dalam perkembangan selanjutnya penghormatan berubah menjadi pemujaan dan Nimrod dianggap sebagai “anak surga” atau “anak langit”, sedangkan Semiramis diangkat sebagai “ratu langit”, sehingga terciptalah sebuah teologi baru hubungan anak dengan ibu dari surga yang berada di langit yang disebut sebagai kepercayaan atau agama Baal, dimana Nimrod dianggap sebagai dewa kehidupan yang dilambangkan delam bentuk anak Dewa Matahari (the son of sun) yang kemudian berkembang menjadi the son of God. Dewa yang berupa ibu dan anak ini berkembang ke seluruh pelosok. Di Mesir tampillah dua dewa yaitu Isis dan Osiris, yang kemudian menjadi trinitas dengan masuknya Dewa Matahari yaitu Ra. Di Roma dikenal tiga dewa yang dipuja yaitu Yupiter, Fortuna dan Saturnus. Di Persia ada Mazda dan Azura.
Tanggal 25 Desember yang ditetapkan sebagai hari Natal atau kelahiran Yesus adalah suatu bentuk pengingkaran yang kemudian dijadikan puncak keyakinan Kristiani, padahal apabila kita melihat sejarah maka tampak jelas bahwa status Maria diberi pengertian yang sama dengan Dewi Mesir Kuno yaitu Isis. Osiris adalah anak lelaki dari Dewi Perawan yang lahir pada tanggal 25 Desember, Dewa langit yang suci dan perawan kemudian melahirkan Dewa Matahari yang diberi nama Bacchus atau Dyanosus yang oleh orang Yunani dikenal sebagai Juru Selamat.
Mashud S.M, dalam bukunya Misteri Natal telah mengutip tulisan HW. Armstrong dalam bukunya “The Plain Truth obout Christmas” (terbitan California: Worldwide Church of God. 1984) yang memaparkan secara tuntas perihal peringatan Natal sebagai kelanjutan dari budaya pagan (menyembah berhala, politeisme) sebagai bentuk yang sama sekali tidak dikenal dalam ajaran kristiani.
Melengkapi uraian ada beberapa pokok tulisan berkaitan Natal diantaranya:
  1. Natal bukanlah upacara gereja yang pertama, melainkan (diyakini) berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus (Christmas was not among the earliest festival of church…..the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs entering around the January calends gravitated to christmas). (Sampai abad ke-4 hari lahir Yesus diperingati pada tanggal 6 Januari, akan tetapi hari yang sangat penting untuk pengkultusan Sol Invictus (dewa matahari yang tak terkalahkan) dalam setahun adalah 25 Desember, perayaan natalis Invictus, hari lahir, lahir kembali, matahari)
  2. Di dalam kitab suci tidak seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang seperti Fir’aun dan Herodes yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya di dunia.
  3. Dalam Encyclopedia Britanica 1946 ditulis: Natal bukan upacara gereja abad pertama. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya dan Bibel juga tidak pernah menganjurkannya.
  4. Pohon Natal yang menjadi bagian dari ritual peringatan kelahiran Yesus ternyata merupakan warisan budaya kafir paganistik yang pada awalnya sudah dirintis oleh Raja Nimrod dan kemudian dilestarikan oleh ibu kandungya yang bernama Semiramis dalam bentuk Tuhan yang mempunyai hubungan antara anak dengan ibu.

Melihat di atas, sebenarnya Al-Qur’an telah mengkoreksi atas fakta-fakta yang dilakukan oleh segolongan ahli kitab yang memberikan ajaran-ajaran seakan-akan wahyu Tuhan padahal itu hanyalah sebagai bentuk rekayasa kepercayaan (theological engineering). “Sesungguhnya di antara mereka itu ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkitab supaya kamu menyangka yang dibaca itu sebagian dari Alkitab, padahal ia bukan dari Alkitab, dan mereka berkata ‘Ia dari sisi Allah’, padahal bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta kepada Allah sedang mereka mengetahui” (Ali Imran: 78).

Sumber: Menuju muslim Kaffah, karangan Drs. H. Toto Tasmara hal. 339-346



Tidak ada komentar:

Posting Komentar