Sabtu, 22 Agustus 2015

HAWA NAFSU & NAFSU

HAWA NAFSU & NAFSU



Ass. Wr. Wb.
            Nafsu adalah anugerah Allah SWT yang hanya diberikan kepada Manusia. Ini salah satu dari beberapa keistimewaan atau kelebihan manusia dari makhluk lain. Hal ini ditegaskan Allah dalam QS.17:70
Makhluk lain seperti hewan, malaikan, syetan/jin, tidak dianugerahi nafsu. Dengan adanya nafsu maka manusia mempunyai keinginan dan kebebasan memilih dan menentukan nasib. Hal-hal yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia secara umum (universal) kemudian disebut sebagai hak asasi manusia, termasuk dalam hal keinginan & kebebasan.
Karena mempunyai kebebasan (lihat QS 90:10 dan 91:8) dalam memilih jalan baik atau jalan buruk dan boleh berkeinginan akan menjadi baik atau menjadi buruk, menjadi orang yang banyak kebaikannya atau sedikit keburukan atau sebaliknya, maka tidak sedikit manusia yang mengalami kesulitan (tidak pandai) mengatur dalam menggunakan kebebasannya.
            Lain halnya dengan makhluk lain, mereka tidak diberi kebebasan. Malaikat tidak bisa berbuat buruk, tidak mempunyai keinginan untuk menjadi buruk. Maka itu sering kita dengar bahwa malaikat ”tidak mempunyai nafsu”.
Dengan demikian juga syetan tak bisa berbuat selain keburukan. Kucing tak akan ingin berkokok, harimau tak akan ingin kambing guling, dsb.

            Dengan keistimewaan lainnya, manusia dengan nafsu (keinginan) nya mempunyai peradaban dan kemajuan. Manusia jaman Nabi Adam berbeda peradaban & kemajuannya dengan masusia jaman Nabi Ibrahim dengan Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW bahkan berbeda dengan jaman sekarang.
Dalam QS 3:83 Allah SWT menerangkan bahwa seluruh isi langit dan bumi ”berserah diri” (patuh/pasrah) kepada Allah, karena memang mereka tidak diberi kebebasan. Maka itu ada yang mengatakan bahwa semua isi alam semesta ini taat ”beribadah” kepada Allah. Ungkapan ini berdasarkan penegasan Allah dalam  QS.22:18
Allah walau memberikan kebebasan kepada manusia, dengan ke Rahiman-Nya Allah tetap mengisyaratkan agar nafsu digunakan untuk hal-hal yang indah (baik). QS 3:14 diawali dengan kata-kata ”Zuyyina li naasi” (dihiaskan pada manusia nafsu/keinginan terutama dalam hal 3 Ta (hata, tahta dan Wanita). Tahta tidak hanya dalam arti kekuasaan tetapi juga keppuleran, kebesaran, menang sendiri, menjadi yang ”ter”, tampil beda, dsb. Sedang Wanita dimaksu adalah sex dan keturunan.

            Nafsu (keinginan) mekhluk selain manusia bersifat sudah dijatah oleh Allah. Pohon sirih tidak untuk berbuah semangka, nafsu sex si kucing tak akan muncul (birahinya) kecuali bulan-bulan Juni-September, dsb. Itulah yang dimaksud selain manusia ”tidak punya nafsu” Tetapi nafsu sex manusia? Kapan saja, dimana saja dan bagaimanapun saja dan dapat pula melampaui batas, batas apa saja...!!!

            Nafsu tidak perlu dihilangkan dan memang tidak bisa hilang. Jika hilang, kemanusian kita justru akan hilang juga. Senangkah jika kita tidak bernafsu berbuat baik, tak ingin pahala, dsb ???
Orang kehilangan nafsu akan menjadi sakit jiwa, songong, bengong, tak tentu arah (ngacau) dsb. Pakailah nafsu untuk peradaban dan kemajuan, untuk hal-hal yang indah (baik) sesuai dengan arahan Allah SWT dalam QS 3:14. Mengarahkan nafsu untuk hal-hal positif akan menguntungkan hidup kita, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat kelak.

            Hawa Nafsu dalam Al-Qur’an diistilahkan cukup dengan kata hawa. Hawa nafsu ialah nafsu yang ’meluap’, ”melampaui batas”. Ambisi itu nafsu, tetapi ambisius adalah hawa nafsu. Ingin (dan berusaha) naik pangkat itu bagus/boleh, tetapi dengan jalan sikut sana sikut sini dengan menginjak kepala orang lain, ini sudah termasuk hawa nafsu. Allah SWT menyindir dengan kalimat : ”Sukakah kamu memakan daging saudaramu?” (QS 49:12)
Hawa nafsu dan nafsu erat kaitannya dengan emosi, perasaan dan intuisi. Jadi berkaitan banyak dengan fungsi Kalbu, walau berkaitan juga dengan akal (otak). Jika akal lebih dominan dari kalbu, maka pengendalian hawa nafsu sering kacau. Sering kita lihat/dengar seorang cerdik pandai melalukan perbuatan yang melampaui batas hingga dikatakan dia sebagai orang ”bodoh”. Inilai yang dimaksud Allah dengan ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”  (QS 95: 4-5)

Berkaitan dengan nafsu dan hawa nafsu ini ada 4(empat) hal yang perlu kita renungkan (perhatikan) yaitu :
Kaum wanita dikodratkan Allah mempunyai perasaan yang lebih halus dari kaum pria, kepekaan kalbunya tinggi. Tetapi justru wanita yang lebih lihai mengatur nafsu & hawa nafsunya. Jadi kalbu yang kurang peka, perasaan yang kasar, lebih mudah terjerumus kedalam badai hawa nafsu. Maka kaum pria ”lebih hati-hatilah” dalam mengelola nafsu dan hawa nafsu !
Fungsi kalbu dimulai sejak bayi berada dalam rahim (sang ibu) ketika umur 4 bulan. Sedangkan orak baru berfungsi baik setelah di anak berusia 6-7 tahun. Maka dari itu, kewajiban bagi ibu untuk mengasah kepekaan kalbu anaknya sejak dini. Rasulullah mengingatkan bahwa kalbu itu dapat dimintai nasehat. Dan muliakanlah anakmu dengan memperbaiki kesopanannya” Dan ini kesopanan ialah ”membiasakan anak” berkata : permisi, maaf dan terima kasih.
Kelihaian mengendalikan nafsu/hawa nafsu dalam arti memfungsikan kalbu sesempurna mungkin, antara lain dengan : Janganlah memanjakan anak, berikan tantangan dan jangan membela anak bila memang dia bersalah. Ketahuilah bahwa setiap orang mempunyai organ bernama serat penahan nafsu yang kecanggihan kerjanya bergantung kepada pendidikan sang ibu, bukan oleh sekolah.
Ternyata pusat keimanan letaknya di kalbu, dimana kalbulah yang pandai ”memahami” hal-hal yang berkenaan dengan keimanan. Orang yang imannya tebal, kalbunya merasa jijik jika melihat/mendengar soal kejelekan (kemungkaran) dan merasa indah jika melihat hal-hal yang islami, yang baik (ma’ruf) liha tafsir QS 7:179,   3:191,   8:2   dan 49:7
Wass. Wr. Wb.

(dikutif dari Pembelajaran Kader Mubaliq  Al-Azhar  / KH Suharyadi Sumhudi SEP MA)



           
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar