Ass. Wr. Wb.
Nafsu adalah anugerah Allah SWT
yang hanya diberikan kepada Manusia. Ini salah satu dari beberapa keistimewaan atau kelebihan manusia dari
makhluk lain. Hal ini ditegaskan Allah dalam QS.17:70
Makhluk lain
seperti hewan, malaikan, syetan/jin, tidak dianugerahi nafsu. Dengan adanya
nafsu maka manusia mempunyai keinginan dan kebebasan memilih dan menentukan
nasib. Hal-hal yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia secara umum
(universal) kemudian disebut sebagai hak asasi manusia, termasuk dalam hal
keinginan & kebebasan.
Karena mempunyai
kebebasan (lihat QS 90:10 dan 91:8) dalam memilih jalan baik atau jalan buruk
dan boleh berkeinginan akan menjadi baik atau menjadi buruk, menjadi orang yang
banyak kebaikannya atau sedikit keburukan atau sebaliknya, maka tidak sedikit
manusia yang mengalami kesulitan (tidak pandai) mengatur dalam menggunakan
kebebasannya.
Lain halnya dengan makhluk lain,
mereka tidak diberi kebebasan. Malaikat tidak bisa berbuat buruk, tidak
mempunyai keinginan untuk menjadi buruk. Maka itu sering kita dengar bahwa malaikat ”tidak mempunyai nafsu”.
Dengan demikian
juga syetan tak bisa berbuat selain keburukan. Kucing tak akan ingin berkokok,
harimau tak akan ingin kambing guling, dsb.
Dengan keistimewaan lainnya, manusia
dengan nafsu (keinginan) nya mempunyai peradaban dan kemajuan. Manusia jaman
Nabi Adam berbeda peradaban & kemajuannya dengan masusia jaman Nabi Ibrahim
dengan Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW bahkan berbeda dengan jaman
sekarang.
Dalam QS 3:83
Allah SWT menerangkan bahwa seluruh isi langit dan bumi ”berserah diri”
(patuh/pasrah) kepada Allah, karena memang mereka tidak diberi kebebasan. Maka
itu ada yang mengatakan bahwa semua isi alam semesta ini taat ”beribadah”
kepada Allah. Ungkapan ini berdasarkan penegasan Allah dalam QS.22:18
Allah walau
memberikan kebebasan kepada manusia, dengan ke Rahiman-Nya Allah tetap
mengisyaratkan agar nafsu digunakan untuk hal-hal yang indah (baik). QS 3:14
diawali dengan kata-kata ”Zuyyina li
naasi” (dihiaskan pada manusia nafsu/keinginan terutama dalam hal 3 Ta (hata, tahta dan Wanita). Tahta
tidak hanya dalam arti kekuasaan tetapi juga keppuleran, kebesaran, menang
sendiri, menjadi yang ”ter”, tampil beda, dsb. Sedang Wanita dimaksu adalah sex
dan keturunan.
Nafsu (keinginan) mekhluk selain
manusia bersifat sudah dijatah oleh Allah. Pohon sirih tidak untuk berbuah
semangka, nafsu sex si kucing tak akan muncul (birahinya) kecuali bulan-bulan
Juni-September, dsb. Itulah yang dimaksud selain manusia ”tidak punya nafsu”
Tetapi nafsu sex manusia? Kapan
saja, dimana saja dan bagaimanapun saja dan dapat pula melampaui batas, batas
apa saja...!!!
Nafsu tidak perlu dihilangkan dan memang tidak
bisa hilang. Jika hilang, kemanusian kita justru akan hilang juga. Senangkah
jika kita tidak bernafsu berbuat baik, tak ingin pahala, dsb ???
Orang kehilangan
nafsu akan menjadi sakit jiwa, songong, bengong, tak tentu arah (ngacau) dsb.
Pakailah nafsu untuk peradaban dan kemajuan, untuk hal-hal yang indah (baik)
sesuai dengan arahan Allah SWT dalam QS 3:14. Mengarahkan nafsu untuk hal-hal
positif akan menguntungkan hidup kita, baik kehidupan dunia maupun kehidupan
akhirat kelak.
Hawa Nafsu dalam Al-Qur’an
diistilahkan cukup dengan kata hawa. Hawa
nafsu ialah nafsu yang ’meluap’, ”melampaui batas”. Ambisi itu nafsu, tetapi
ambisius adalah hawa nafsu. Ingin (dan berusaha) naik pangkat itu bagus/boleh,
tetapi dengan jalan sikut sana sikut sini dengan menginjak kepala orang lain,
ini sudah termasuk hawa nafsu. Allah SWT menyindir dengan kalimat : ”Sukakah kamu memakan daging saudaramu?” (QS
49:12)
Hawa nafsu dan
nafsu erat kaitannya dengan emosi, perasaan dan intuisi. Jadi berkaitan banyak
dengan fungsi Kalbu, walau berkaitan juga dengan akal (otak). Jika akal lebih
dominan dari kalbu, maka pengendalian hawa nafsu sering kacau. Sering kita
lihat/dengar seorang cerdik pandai melalukan perbuatan yang melampaui batas
hingga dikatakan dia sebagai orang ”bodoh”. Inilai yang dimaksud Allah dengan ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya” (QS 95: 4-5)
Berkaitan dengan
nafsu dan hawa nafsu ini ada 4(empat) hal yang perlu kita renungkan
(perhatikan) yaitu :
Kaum wanita
dikodratkan Allah mempunyai perasaan yang lebih halus dari kaum pria, kepekaan
kalbunya tinggi. Tetapi justru wanita yang lebih lihai mengatur nafsu &
hawa nafsunya. Jadi kalbu yang kurang peka, perasaan yang kasar, lebih mudah
terjerumus kedalam badai hawa nafsu. Maka kaum pria ”lebih hati-hatilah” dalam
mengelola nafsu dan hawa nafsu !
Fungsi kalbu
dimulai sejak bayi berada dalam rahim (sang ibu) ketika umur 4 bulan. Sedangkan
orak baru berfungsi baik setelah di anak berusia 6-7 tahun. Maka dari itu,
kewajiban bagi ibu untuk mengasah kepekaan kalbu anaknya sejak dini. Rasulullah
mengingatkan bahwa kalbu itu dapat dimintai nasehat. Dan muliakanlah anakmu
dengan memperbaiki kesopanannya” Dan ini kesopanan ialah ”membiasakan anak”
berkata : permisi, maaf dan terima kasih.
Kelihaian
mengendalikan nafsu/hawa nafsu dalam arti memfungsikan kalbu sesempurna
mungkin, antara lain dengan : Janganlah memanjakan anak, berikan tantangan dan
jangan membela anak bila memang dia bersalah. Ketahuilah bahwa setiap orang
mempunyai organ bernama serat penahan nafsu yang kecanggihan kerjanya
bergantung kepada pendidikan sang ibu, bukan oleh sekolah.
Ternyata pusat keimanan letaknya di kalbu,
dimana kalbulah yang pandai ”memahami” hal-hal yang berkenaan dengan keimanan.
Orang yang imannya tebal, kalbunya merasa jijik jika melihat/mendengar soal
kejelekan (kemungkaran) dan merasa indah jika melihat hal-hal yang islami, yang
baik (ma’ruf) liha tafsir QS 7:179,
3:191, 8:2 dan 49:7
Wass. Wr. Wb.
(dikutif dari Pembelajaran Kader
Mubaliq Al-Azhar / KH Suharyadi Sumhudi SEP MA)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar